Ket foto : Ruas jalan di Bonle’u, Kecamatan Tobu
Laporan Reporter SUARA TTS.COM, Erik Sanu
SUARA TTS.COM | SOE – Ruas jalan berstatus jalan kabupaten di wilayah Kefanan, Desa Bonle’u, Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), terancam putus akibat tergerus longsor sejak tahun 2025.
Hingga kini, meski telah dilakukan survei oleh pemerintah daerah, penanganan terhadap kerusakan jalan tersebut belum juga dilakukan.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat setempat. Jika ruas jalan tersebut putus total, warga Desa Bonle’u berpotensi terisolir karena tidak tersedia jalur alternatif lain untuk keluar masuk desa.
Kepala Desa Bonle’u, Yumeding Fobia, mengatakan pemerintah desa telah melaporkan kondisi longsor tersebut kepada Pemerintah Kabupaten TTS, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta DPRD TTS pada 21 Februari 2026.
“Laporan dari pemerintah desa sudah kami sampaikan sejak 21 Februari 2026,” kata Yumeding Fobia kepada SUARA TTS.COM melalui pesan WhatsApp, Selasa (21/4/2026).
Ia menjelaskan, sekitar satu minggu setelah laporan tersebut disampaikan, tim dari BPBD bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten TTS telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengukuran dan survei.
Namun hingga saat ini, lanjutnya, belum ada langkah penanganan lanjutan terhadap ruas jalan yang terus tergerus longsor tersebut.
“Kami dari pemerintah desa sudah buat laporan. Satu minggu setelah laporan masuk, tim dari BPBD dan PUPR sudah turun melakukan pengukuran dan survei, tetapi sampai sekarang belum ada penanganan lanjutan,” ujarnya.
Mantan wartawan Victory News itu menegaskan bahwa Desa Bonle’u merupakan salah satu desa di Kabupaten TTS yang memiliki kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kontribusi tersebut berasal dari pengelolaan sumber air oleh Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Soe yang berada di wilayah desa tersebut.
Karena itu, ia berharap pemerintah daerah tidak hanya berhenti pada tahap survei, tetapi segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki ruas jalan yang terancam putus tersebut.
Menurutnya, jika jalan tersebut benar-benar putus, masyarakat akan mengalami kesulitan besar dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk mengakses layanan pendidikan, kesehatan, maupun kebutuhan ekonomi.
Kondisi tersebut akan semakin berat terutama saat musim hujan. Akses lain melalui wilayah Noepesu di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) sering kali tidak dapat dilalui karena banjir.
“Satu-satunya jalan keluar hanya melalui ruas jalan ini. Kalau lewat Noepesu di TTU sering banjir, sehingga masyarakat bisa benar-benar terisolir,” jelasnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten TTS dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut sebelum kerusakan jalan semakin parah dan benar-benar memutus akses masyarakat.
“Masyarakat juga sudah mengetahui bahwa ada survei dan pengukuran dari Pemda melalui BPBD dan PUPR setelah laporan kami masuk. Harapan kami tentu ada penanganan nyata sebelum jalan ini benar-benar putus,” pungkasnya.(Sys).

















