Example 728x250
Berita

Gubernur Melki Bongkar Fakta Mengejutkan: Ekonomi NTT Bocor Rp51 Triliun Tiap Tahun

150
×

Gubernur Melki Bongkar Fakta Mengejutkan: Ekonomi NTT Bocor Rp51 Triliun Tiap Tahun

Sebarkan artikel ini
Example 468x60
Ket foto : Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena saat berkunjung ke SMK Negeri 2 Soe

Laporan Reporter SUARA TTS.COM,Erik Sanu 

SUARA TTS.COM | SOE – Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengungkap fakta mengejutkan terkait kondisi ekonomi di NTT. Ia menyebut kebocoran ekonomi daerah menyebabkan defisit perdagangan mencapai sekitar Rp51 triliun setiap tahun.

Example 300x600

Hal tersebut disampaikan Melki saat melakukan kunjungan kerja di SMK Negeri 2 Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Senin (30/3/2026).

Dalam kunjungan itu, Gubernur Melki juga meresmikan pengoperasian Dapur Flobamorata dan NTT Mart berbasis program One School One Product (OSOP), yang diharapkan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi lokal.

“Defisit Rp51 triliun ini menunjukkan kita terlalu banyak membeli dari luar, tapi belum cukup menjual keluar. Ini harus kita ubah,” tegas Melki.

Menurutnya, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah sangat berisiko, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ia menyinggung potensi dampak konflik internasional serta fenomena El Nino yang diprediksi dapat memengaruhi produksi pangan dan harga kebutuhan masyarakat.

“Kondisi ke depan tidak mudah. Harga bisa naik, ekonomi bisa tertekan. Kita harus siapkan diri dari sekarang,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, Pemerintah Provinsi NTT telah memangkas belanja daerah sebesar 10 persen. Namun Melki menegaskan penghematan fiskal saja tidak akan cukup jika tidak diikuti perubahan pola ekonomi masyarakat dari konsumtif menjadi produktif.

Ia mencontohkan sejumlah kebocoran ekonomi yang selama ini terjadi di NTT, seperti konsumsi pinang yang mencapai sekitar Rp1 triliun per tahun dari luar daerah serta penggunaan air mineral yang hampir seluruhnya dipasok dari luar wilayah.

“Kita konsumsi setiap hari, tapi bukan kita yang produksi. Ini uang keluar terus tanpa kembali,” katanya.

Di tingkat kabupaten, Melki memperkirakan perputaran uang yang keluar dari Kabupaten Timor Tengah Selatan mencapai Rp2,5 hingga Rp3 triliun setiap tahun. Jika sebagian kebutuhan tersebut dapat diproduksi secara lokal, dampaknya dinilai akan sangat besar bagi ekonomi masyarakat.

“Kalau Rp300 sampai Rp500 miliar saja bisa diproduksi di sini, itu sudah cukup menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Untuk memulai perubahan tersebut, Melki mendorong aparatur sipil negara (ASN) menjadi motor penggerak konsumsi produk lokal. Ia menyebut dengan sekitar 11 ribu ASN di TTS yang membelanjakan Rp100 ribu setiap bulan untuk produk lokal, perputaran uang dapat mencapai Rp1,1 miliar setiap bulan.

“ASN harus jadi contoh. Mereka punya pendapatan tetap, jadi bisa membantu menghidupkan ekonomi lokal,” katanya.

Ia juga menegaskan pentingnya peran pemerintah sebagai pembeli awal guna membangun kepercayaan pasar terhadap produk lokal.

“Saya sendiri membeli produk anak-anak sekolah. Ini supaya mereka yakin bahwa hasil karya mereka punya nilai,” ujar Melki.

Dalam kesempatan itu, ia menekankan integrasi tiga pendekatan pengembangan ekonomi, yakni One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP). Melalui konsep ini, setiap desa, sekolah, dan komunitas didorong memiliki minimal satu produk unggulan.

Di Kabupaten Timor Tengah Selatan terdapat sekitar 96 sekolah tingkat SMA, SMK, dan SLB yang dinilai berpotensi menghasilkan berbagai produk unggulan jika dikelola secara serius.

“Minimal satu sekolah satu produk. Untuk SMK, tiap jurusan bisa menghasilkan produk sendiri,” jelasnya.

Produk yang dikembangkan tidak hanya berupa pangan olahan, tetapi juga kerajinan tangan, alat produksi sederhana hingga kebutuhan rumah tangga seperti sabun dan produk harian lainnya.

Melki mengakui produk lokal masih menghadapi tantangan dari sisi kualitas dan kemasan. Namun ia meminta masyarakat tidak langsung membandingkannya dengan produk industri besar.

“Semua usaha besar mulai dari kecil. Yang penting kita dukung sambil terus diperbaiki,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya narasi atau cerita di balik sebuah produk untuk meningkatkan nilai jual, terutama jika ingin menembus pasar nasional hingga internasional. Salah satu potensi yang ia soroti adalah madu lokal NTT yang dinilai memiliki kualitas tinggi namun belum didukung kemasan dan branding yang kuat.

Untuk mempercepat perubahan ekonomi, Melki meminta dinas terkait memetakan jenis barang yang paling banyak didatangkan dari luar daerah.

“Identifikasi barang yang rutin kita beli dari luar. Dari situ kita tentukan mana yang bisa kita produksi sendiri,” tegasnya.

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Melki juga membeli sejumlah produk hasil karya siswa dan UMKM, seperti kue rambut manis, keripik pisang, stik kelor, sambal luat, abon ikan, jagung goreng hingga kain tenun.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, menjelaskan bahwa program OSOP dirancang untuk menghubungkan pendidikan dengan pasar nyata.

“Kita ingin sekolah menjadi teaching factory. Siswa tidak hanya belajar teori, tetapi langsung produksi, mengelola usaha hingga pemasaran,” ujarnya.

Di sisi lain, Bupati Timor Tengah Selatan, Eduard Markus Lioe, menilai pendekatan tersebut membuka peluang peningkatan nilai tambah produk lokal sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam ekonomi daerah.

“Produk lokal seperti tenun, hasil pertanian dan olahan pangan punya potensi besar untuk bersaing di pasar yang lebih luas,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk aktif membeli produk lokal sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. ***

Example 300250
Example 120x600