Ket foto : Nampak mahasiswa saat berada di Desa Oenino
Laporan Reporter SUARA TTS.COM, Erik Sanu
SUARA TTS.COM | SOE –Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Gentaskin di Desa Oenino, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), menuai sorotan dari Pemerintah Desa (Pemdes) Oenino.
Pemdes menilai pelaksanaan program kerja mahasiswa selama kurang lebih dua bulan belum memberikan hasil yang sesuai dengan harapan masyarakat.
Sebanyak 16 mahasiswa ditempatkan di Desa Oenino. Mereka berasal dari sejumlah perguruan tinggi, yakni 10 mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana), 2 mahasiswa dari Institut Pendidikan Soe (IPS), serta masing-masing 1 mahasiswa dari Universitas Citra Bangsa (UCB), STIKes Maranatha Kupang dan Universitas Aryasatya Deo Muri Kupang.
Kekecewaan Pemdes Oenino bahkan dituangkan dalam surat yang ditujukan kepada pimpinan LLDIKTI Wilayah XV. Surat tersebut disampaikan menyusul informasi mengenai penarikan mahasiswa KKNT Gentaskin pada Senin, 31 Agustus 2026.
Dalam surat tersebut, Pemdes meminta LLDIKTI Wilayah XV menjadikan pelaksanaan KKNT Gentaskin di Desa Oenino sebagai bahan perhatian dan evaluasi bersama.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah program kerja utama mahasiswa yang dinilai belum berjalan maksimal.
Pemdes menyebut mahasiswa hanya mengerjakan dua dapur hijau dengan masing-masing dua bedeng. Namun, program tersebut baru mulai dikerjakan pada awal Agustus 2026 dan hingga menjelang penarikan mahasiswa belum juga tuntas.
Pemdes juga mempertanyakan minimnya keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program tersebut.
Selain program utama, mahasiswa disebut melaksanakan sejumlah kegiatan tambahan berupa sosialisasi atau edukasi di satu SD, satu SMP, satu SMA, serta satu kelompok masyarakat.
Namun, Pemdes mempertanyakan sejauh mana kegiatan tersebut memberikan dampak nyata bagi masyarakat selama mahasiswa menjalani KKNT di Desa Oenino.
“Apakah selama dua bulan KKNT di Desa Oenino programnya hanya ini?” demikian pertanyaan Pemdes dalam surat tersebut.
Pemdes Oenino juga membandingkan pelaksanaan KKNT Gentaskin kali ini dengan kegiatan KKN sebelumnya.
Menurut Pemdes, kehadiran mahasiswa pada KKNT batch sebelumnya maupun KKN Reguler dinilai lebih memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Karena itu, Pemdes berharap LLDIKTI Wilayah XV melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan KKNT, sehingga program KKN di desa-desa ke depan benar-benar mampu memberikan dampak positif dan meninggalkan hasil yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Kepala Desa Oenino, Yedid Nenobaia, mengatakan persoalan pelaksanaan KKNT tersebut sebelumnya sudah pernah dibahas bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
Menurut Yedid, pihak pemerintah desa juga telah menyampaikan evaluasi terkait program kerja mahasiswa. Namun, ia menyayangkan karena hingga masa KKN berakhir, tidak terlihat perubahan sebagaimana yang diharapkan.
“Ini menjadi keluhan kami yang sudah pernah dibahas bersama DPL dan evaluasi kami, namun sangat disayangkan tidak ada perubahan dari mahasiswa KKNT kali ini,” ujar Yedid kepada media ini.
Ia menilai program kerja mahasiswa selama berada di Desa Oenino tidak berjalan maksimal.
Bahkan, berdasarkan penilaian pemerintah desa dan kecamatan, mahasiswa disebut hanya menghasilkan satu bedeng sayur dan Peta Desa.
Kondisi tersebut membuat pihak pemerintah desa dan kecamatan kecewa. Dalam penilaian yang diberikan, mahasiswa disebut memperoleh nilai maksimal E atau 30 pada skala 1–100.
“Program kerja mahasiswa KKN Desa Oenino tidak berjalan bahkan tidak sesuai harapan. Selama KKN mahasiswa hanya menghasilkan satu bedeng sayur dan Peta Desa,” katanya.
Yedid juga mempertanyakan pemasangan Peta Desa yang disebut dilakukan tanpa adanya pemberitahuan kepada pemerintah desa.
“Peta Desa yang saya kirim tadi, pasang juga tidak info,” ungkapnya.
Kekecewaan Pemdes Oenino semakin bertambah karena mahasiswa KKNT Gentaskin disebut meninggalkan desa tanpa berpamitan secara langsung kepada pemerintah desa.
Yedid mengatakan, pemerintah desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebenarnya telah menunggu kedatangan mahasiswa di kantor desa untuk melakukan prosesi pamitan. Namun, mahasiswa tidak kunjung datang
Sebaliknya, pemerintah desa mendapatkan informasi melalui pesan WhatsApp dari ketua kelompok mahasiswa yang menyampaikan bahwa mereka telah meninggalkan Desa Oenino dan dalam perjalanan menuju Soe untuk berkumpul di kampus IPS.
“Pemerintah Desa Oenino dan BPD tunggu di kantor desa untuk pamit. Ternyata sampai sekarang belum datang. Kami dapat WA dari ketua kelompok mereka sudah di jalan menuju Soe, kumpul di kampus IPS,” jelas Yedid.
Menurutnya, sikap tersebut sangat disayangkan karena pemerintah desa selama ini menjadi pihak yang menerima sekaligus mendampingi mahasiswa selama melaksanakan kegiatan di wilayah Desa Oenino.
“Kami kecewa. Dua bulan tidak ada kegiatan. Program hanya bedengan dan peta,” tegasnya.
Ia menambahkan, warga Dusun II bahkan sempat meminta agar mahasiswa dipanggil kembali untuk melakukan dokumentasi sebelum meninggalkan desa.
“Warga Dusun II bilang mereka pulang, panggil mereka foto-foto. Padahal kami tunggu di kantor desa, mereka tidak datang pamit,” tambah Yedid.
Pemdes Oenino berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pihak perguruan tinggi dan LLDIKTI Wilayah XV agar pelaksanaan KKN maupun KKNT berikutnya dapat berjalan lebih maksimal.
Sementara itu, Ketua Kelompok KKNT Gentaskin Desa Oenino, Catrin, saat dikonfirmasi melalui layanan WhatsApp terkait keluhan Pemdes, capaian program kerja, penilaian yang diberikan, serta persoalan mahasiswa meninggalkan desa tanpa berpamitan, hingga berita ini diterbitkan belum memberikan tanggapan.(Sys/ST)

















