Example 728x250
Stories

Berjuang Sejak Kecil, Joseph Selan Buktikan Anak Kampung Bisa Bangkit dan Sukses di Tanah Rantau

14
×

Berjuang Sejak Kecil, Joseph Selan Buktikan Anak Kampung Bisa Bangkit dan Sukses di Tanah Rantau

Sebarkan artikel ini
Example 468x60
Ket foto : Yoseph Selan bersama keluarga di Toko Bangunan Selan Timor NTT 

Laporan Reporter SUARA TTS.COM, Erik Sanu

SUARA TTS.COM | SOE – Berawal dari kehidupan sederhana dan perjuangan membantu sang ibu berjualan sayur, Joseph Selan, putra asal Oefonu, Kampung Aman, Desa Kuatae, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), kini berhasil merintis usaha toko bangunan di Bandung, Jawa Barat.

Example 300x600

Perjalanan hidup Joseph menjadi gambaran tentang ketekunan seseorang dalam menghadapi keterbatasan. Berbekal tekad, kerja keras, dan kemauan untuk terus berusaha, ia meninggalkan kampung halamannya pada 18 Juli 2007 untuk merantau ke Bandung demi membangun masa depan yang lebih baik.

Di tanah rantau, Joseph menjalani berbagai pekerjaan sebelum akhirnya merintis Toko Bangunan Selan Timor NTT, yang berlokasi di kawasan Katapang–Cibolerang, Bandung, Jawa Barat.

Usaha tersebut kini mempekerjakan belasan karyawan dan menyuplai berbagai kebutuhan bahan bangunan ke wilayah Bandung Raya.

Namun, perjalanan menuju titik tersebut bukanlah proses yang mudah. Di balik usaha yang dirintisnya, tersimpan kisah perjuangan sejak kecil, mulai dari membantu sang ibu berjualan sayur, memikul air untuk diantarkan ke rumah-rumah warga, hingga menghadapi keterbatasan ekonomi yang turut memengaruhi perjalanan pendidikannya.

Joseph merupakan putra dari pasangan Lazarus Selan dan Lea Nubatonis. Sejak kecil, ia menghadapi persoalan keluarga setelah kedua orang tuanya berpisah.

Dalam situasi tersebut, ia menyaksikan langsung perjuangan sang ibu yang bekerja keras berjualan sayur demi memenuhi kebutuhan hidup.

Pengalaman itu menumbuhkan keinginan dalam dirinya untuk membantu sang ibu, meskipun ia sendiri masih membutuhkan perhatian keluarga dan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

“Sebenarnya saya tidak pernah berpikir untuk membawa hal ini ke media. Namun, saya tergerak dari hati kecil untuk memotivasi anak-anak Timur, khususnya mereka yang lahir dalam keadaan kurang beruntung seperti saya,” ungkap Joseph.

Menurutnya, berbagi pengalaman hidup bukanlah tentang membanggakan diri, melainkan memberikan semangat kepada orang lain agar berani menghadapi kesulitan dan tidak mudah menyerah pada keadaan.

“Selagi masih positif dan bisa menginspirasi orang lain, kenapa harus takut untuk berbagi cerita? Kalau itu memang benar, saya akan terus membagikan hal-hal yang bisa memotivasi orang lain,” katanya.

Keterbatasan ekonomi membuat Joseph harus menjalani masa kecil yang tidak mudah. Ia membantu ibunya berjualan sayur dan memikul air untuk diantarkan ke rumah-rumah warga.

Pekerjaan tersebut dilakukannya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Akibatnya, ia harus membagi waktu antara pendidikan dan tanggung jawab membantu sang ibu.

Joseph mengenang bahwa dirinya pernah mengalami kesulitan mengikuti kegiatan belajar secara teratur. Bahkan, ketika duduk di bangku SMP, kemampuan membacanya masih sangat terbatas.

Meski demikian, ia tidak membiarkan pengalaman masa lalu membuatnya kehilangan semangat untuk terus memperbaiki kehidupan.

Dalam perjalanan pendidikannya, Joseph berhasil menamatkan pendidikan sekolah dasar. Namun, ia tidak menyelesaikan pendidikan SMP melalui jalur sekolah formal dan kemudian mengikuti ujian Paket B untuk memperoleh pendidikan setara SMP.

Perjalanan serupa juga terjadi ketika ia melanjutkan pendidikan ke tingkat SMK. Ia tidak menyelesaikan pendidikan melalui jalur formal, sehingga kemudian menempuh jalur Paket C untuk memperoleh pendidikan setara SMA.

Kondisi ekonomi dan tanggung jawab keluarga menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapinya sejak usia muda.

Bagi Joseph, pengalaman tersebut merupakan bagian dari perjalanan hidup yang mengajarkannya untuk tetap berusaha sekalipun menghadapi keterbatasan.

Ia juga mengaku pernah memilih untuk tidak lagi menerima uang pensiun dari ayahnya ketika masih duduk di bangku SMP karena merasa tidak nyaman dengan pembicaraan yang berkembang di lingkungan keluarga.

“Saya berpikir, tidak apa-apa kalau saya harus bekerja sebagai kenek atau berjualan sayur. Yang penting ibu saya bahagia dan tidak terus menjadi bahan pembicaraan orang,” tuturnya.

Keputusan tersebut memperlihatkan besarnya keinginan Joseph untuk membantu sang ibu, meskipun pada usia tersebut ia sendiri masih membutuhkan dukungan keluarga.

Bagi Joseph, perjuangan ibunya menjadi sumber inspirasi untuk terus berusaha memperbaiki kehidupan.

Ia belajar bahwa pekerjaan sederhana tidak seharusnya membuat seseorang merasa rendah diri selama dilakukan dengan niat baik dan penuh tanggung jawab.

Pada 18 Juli 2007, Joseph memutuskan meninggalkan kampung halamannya di TTS dan merantau ke Bandung, Jawa Barat.

Keputusan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya. Ia berharap dapat menemukan peluang baru dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Namun, kehidupan di tanah rantau menuntutnya beradaptasi dengan lingkungan baru, bekerja keras, dan memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.

Joseph menjalani berbagai pekerjaan untuk memperoleh pengalaman sekaligus membangun kehidupannya.

Dari pengalaman tersebut, ia belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, kepercayaan, serta pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang lain.
Pengalaman bekerja itu kemudian menjadi bekal ketika ia mulai merintis usaha sendiri.

Bagi Joseph, membangun kehidupan di tanah rantau membutuhkan keberanian untuk memulai, kesediaan belajar dari pengalaman, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Ia menyadari bahwa perubahan tidak datang hanya dengan mengandalkan harapan. Diperlukan tindakan nyata dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Perjalanan merantau tersebut akhirnya membuka jalan baginya untuk membangun usaha toko bangunan di Bandung.

Setelah melalui berbagai pengalaman kerja, Joseph akhirnya merintis Toko Bangunan Selan Timor NTT di kawasan Katapang–Cibolerang, Bandung, Jawa Barat.

Usaha tersebut berkembang menjadi tempat penyediaan bahan bangunan yang melayani kebutuhan konsumen di berbagai wilayah Bandung Raya.

Kini, toko tersebut mempekerjakan belasan karyawan. Bagi Joseph, perkembangan usaha itu merupakan bagian dari perjalanan panjang yang dibangun melalui kerja keras, kedisiplinan, dan kepercayaan.

Ia memahami bahwa membangun bisnis bukan sekadar mengejar keuntungan. Kepercayaan konsumen, kualitas pelayanan, tanggung jawab, dan konsistensi merupakan hal penting yang harus dijaga agar usaha dapat terus berkembang.

Menjadi seorang perintis juga berarti harus siap mengorbankan waktu dan tenaga, menghadapi berbagai tantangan, serta terus belajar dari pengalaman.

Joseph menggambarkan prinsip perjuangannya melalui sebuah ungkapan yang menjadi pegangan dalam menjalankan usaha.

“Datang paling pagi, pulang paling malam. Itu harga sebagai seorang perintis,” ungkapnya.

Menurutnya, membangun usaha dari bawah membutuhkan kesungguhan dan kesediaan menjalani proses. Setiap peluang harus dimanfaatkan dengan baik, sementara setiap tantangan perlu dihadapi dengan sikap bertanggung jawab.

Ia juga berpegang pada prinsip bahwa masa depan membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar harapan.
“Tidak ada yang bisa menyelamatkan masa depanmu selain kerja kerasmu sendiri,” katanya.

Prinsip tersebut menjadi pesan yang ingin ia bagikan kepada generasi muda agar berani mengambil peluang, terus belajar, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Di tengah kesibukannya menjalankan usaha, Joseph juga terlibat dalam kehidupan sosial masyarakat perantau asal Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Pada periode 2019–2025, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Keluarga Besar Oenam Banam Onam Kabupaten Timor Tengah Selatan (KB OBO TTS) di Bandung, Jawa Barat.

Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari pengabdiannya kepada komunitas perantau asal daerahnya.

Bagi Joseph, kehidupan di tanah rantau bukan hanya tentang mencari nafkah dan membangun usaha, tetapi juga menjaga persaudaraan serta mempererat hubungan dengan sesama warga asal TTS.

Ia meyakini bahwa sejauh apa pun seseorang merantau, asal-usul dan kampung halaman tetap menjadi bagian penting dari perjalanan hidup.

Karena itu, ia berharap pengalaman yang dimilikinya dapat memberikan manfaat bagi generasi muda, khususnya anak-anak NTT yang sedang berjuang memperbaiki kehidupan.

Joseph mengaku terdorong membagikan kisah hidupnya karena ingin memberikan motivasi kepada anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Ia berharap mereka tidak merasa rendah diri karena keadaan keluarga, latar belakang pendidikan, atau lingkungan tempat mereka dibesarkan.

Menurutnya, setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Tidak semua orang memulai dari titik yang sama, tetapi setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan berusaha membangun masa depan yang lebih baik.

“Saya hanya ingin memotivasi anak-anak Timur. Jangan merasa masa depan sudah tertutup hanya karena kita lahir dalam keadaan kurang beruntung. Kalau ada kemauan dan mau bekerja keras, selalu ada harapan untuk masa depan,” pesannya.

Ia juga mengingatkan generasi muda agar menghargai waktu dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Pesan tersebut ia ungkapkan melalui sebuah refleksi tentang arti waktu dan perjuangan.

“Tidak ada siaran ulang dalam hidup ini. Setiap detik yang berlalu adalah peluang yang tidak akan datang untuk kedua kalinya. Maka, hargailah hari ini sebelum ia tertukar dengan kenangan,” ungkapnya.

Bagi Joseph, perjalanan hidupnya dari Kampung Aman, TTS, hingga Bandung merupakan pengalaman yang mengajarkannya tentang arti kerja keras, pengorbanan, dan ketekunan.

Ia berharap kisah tersebut dapat menjadi penyemangat bagi anak-anak NTT agar tidak menyerah pada keadaan, tetap menghargai pendidikan, serta berani memperjuangkan cita-cita.

Dari perjuangan membantu sang ibu berjualan sayur hingga merintis toko bangunan yang kini mempekerjakan belasan karyawan, Joseph ingin menyampaikan pesan sederhana kepada generasi muda: jangan malu dengan asal-usul dan jangan biarkan keterbatasan masa lalu memadamkan harapan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Dari Kampung Aman, TTS, hingga Bandung, Joseph Selan membuktikan bahwa perjalanan hidup boleh dimulai dari keterbatasan, tetapi harapan dan usaha untuk memperbaiki masa depan harus tetap dijaga.(Sys/ST)

Example 300250
Example 120x600