Example 728x250
Berita

Seminar Semarak Kebudayaan Bahas Pelestarian Budaya Dawan di Tengah Modernisasi

2
×

Seminar Semarak Kebudayaan Bahas Pelestarian Budaya Dawan di Tengah Modernisasi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60
Ket foto : Nampak pembukaan seminar semarak kebudayaan di hotel Denah Soe

Laporan Reporter SUARA TTS.COM,TIM

SUARA TTS.COM | SOE – Upaya melestarikan warisan leluhur, nilai filosofis dan kearifan lokal masyarakat Dawan menjadi pembahasan dalam Seminar Semarak Kebudayaan Tahun 2026 di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.

Example 300x600

Seminar yang mengangkat tema “Menjaga Warisan Leluhur, Menjaga Nilai Filosofis dan Kearifan Lokal Suku Dawan di Tengah Arus Modernisasi” tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bekerja sama dengan Anggota DPR RI Komisi X, Stevano Rizki Adranacus.

Kegiatan berlangsung di Ballroom Hotel Denah Soe, Sabtu (12/9/2026), mulai pukul 09.00 WITA hingga selesai. Seminar diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan.

Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut, Karunia Meianto Lily dan Pina Ope Nope. Keduanya membahas berbagai aspek kebudayaan serta pentingnya keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal.

Kegiatan dibuka Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten TTS, Yusuf Nikolas Soru, SE, yang mewakili Anggota DPR RI Komisi X, Stevano Rizki Adranacus.

Dalam sambutannya, Yusuf menyoroti perubahan perilaku masyarakat sebagai salah satu dampak perkembangan teknologi dan modernisasi.

Menurutnya, perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga berkaitan dengan pola konsumsi dan perputaran ekonomi di daerah.

Ia mencontohkan kebiasaan masyarakat yang sebelumnya berbelanja secara langsung di pasar maupun toko, kini semakin banyak dilakukan melalui platform digital.

Menurut Yusuf, perkembangan teknologi pada dasarnya memberikan kemudahan bagi masyarakat. Namun, pemanfaatannya juga perlu disertai dengan kesadaran dan tanggung jawab agar tidak menimbulkan dampak negatif.

Ia turut menyinggung fenomena judi online yang dinilainya dapat memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat karena sebagian uang masyarakat mengalir ke luar daerah.

“Capital fly ini diperburuk lagi dengan kondisi saat ini, proyek-proyek di TTS dikerjakan oleh orang dari luar TTS, sehingga setelah kerja orang bawa uang keluar dari TTS. APBD TTS tahun 2026 sebanyak Rp1,5 triliun. Tapi yang berputar di TTS hanya sekitar Rp300-an miliar. Ini menunjukkan bahwa masyarakat saat ini dihadapkan pada kondisi yang tidak baik-baik saja,” tegas Yusuf.

Ia menilai perubahan perilaku yang berlangsung terus-menerus dapat menjadi kebiasaan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, menurutnya, perkembangan zaman perlu diimbangi dengan penguatan nilai-nilai lokal agar identitas budaya masyarakat tetap terjaga.

Selain persoalan sosial dan ekonomi, Yusuf juga mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menggunakan hak politik secara bijaksana dalam menentukan para pemimpin dan pengambil kebijakan.

Menurutnya, pemilu yang berlangsung setiap lima tahun merupakan kesempatan bagi masyarakat untuk menentukan pilihan politik yang dianggap mampu memperjuangkan kepentingan rakyat.

Ia kemudian mencontohkan sejumlah program yang menurutnya diperjuangkan melalui jalur politik, termasuk bantuan rumah layak huni dan Program Indonesia Pintar (PIP) bagi anak-anak sekolah di NTT, termasuk TTS.

“Saya contohkan, dulu para orang tua di dapil saya tabung uang puluhan tahun untuk bangun rumah, tapi dengan memilih saya, saya perjuangkan anggaran bangun rumah sehat untuk mereka. Begitupun biaya sekolah, Bapak Stevano di Komisi X DPR RI tahun 2026 telah memberikan beasiswa PIP kepada anak-anak sekolah di NTT, termasuk di TTS,” ujarnya.

Yusuf mengatakan pembangunan daerah tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik dan anggaran pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat dalam menjaga potensi ekonomi, sosial dan budaya yang dimiliki daerah.

Sementara dalam konteks kebudayaan, seminar tersebut memberikan perhatian khusus terhadap peran generasi muda dalam mempertahankan eksistensi budaya Dawan.

Generasi muda dinilai memiliki posisi strategis karena tumbuh di tengah perkembangan teknologi, media sosial serta perubahan gaya hidup yang berlangsung cepat.

Perkembangan teknologi tersebut dapat menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelestarian budaya. Jika dimanfaatkan secara positif, teknologi dan media sosial dapat digunakan untuk mendokumentasikan, memperkenalkan serta mempromosikan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Karena itu, budaya lokal tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga perlu dipahami sebagai bagian dari identitas masyarakat yang tetap relevan dalam kehidupan masa kini.

Dalam pemaparannya, Pina Ope Nope menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap budaya sebagai bagian dari identitas dan jati diri.

Menurutnya, budaya Dawan memiliki nilai filosofis yang tercermin dalam berbagai tradisi, kebiasaan serta tata kehidupan masyarakat.

Pemahaman terhadap nilai-nilai tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak hanya mengenal budaya dari sisi bentuk atau tradisinya, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Sementara itu, Karunia Meianto Lily menyoroti pentingnya keberlanjutan proses pewarisan budaya kepada generasi muda.

Menurutnya, penguatan pemahaman generasi muda terhadap budaya lokal menjadi bagian penting dalam memastikan tradisi, nilai dan pengetahuan yang diwariskan leluhur tetap dikenal dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Seminar Semarak Kebudayaan tersebut sekaligus menjadi ruang edukasi dan diskusi bagi masyarakat TTS untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya pelestarian budaya Dawan di tengah perubahan zaman.(Sys/ST)

Example 300250
Example 120x600