Ket foto : Pohon Asam Timor
Laporan Reporter SUARA TTS.COM, Erik Sanu
SUARA TTS.COM | SOE – Tanaman asam Timor dinilai memiliki daya tahan yang kuat terhadap berbagai kondisi iklim dan menjadi salah satu komoditas lokal yang berpotensi menopang perekonomian masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT).
Potensi tersebut kembali didorong melalui gerakan pembibitan asam Timor yang dilakukan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) bersama Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) NTT.
Salah satu bentuk nyata gerakan tersebut diwujudkan melalui Launching Rumah Pembibitan Asam Timor di Jemaat GMIT Silo Toifau, Klasis Amanuban Selatan, pada Senin (24/8/2026) lalu.
Rumah pembibitan tersebut menjadi rumah bibit kelima yang diluncurkan melalui kolaborasi GMIT dan DPD GAMKI NTT. Sebanyak 10.000 bibit asam Timor disiapkan untuk dikembangkan, dibagikan dan ditanam secara berkelanjutan di berbagai lokasi, baik halaman gereja, kebun jemaat maupun lahan milik GMIT, termasuk pekarangan sekolah dan kebun-kebun gereja.
Gerakan tersebut tidak hanya diarahkan untuk penghijauan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi jemaat sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim dan krisis ekonomi.
Ketua Majelis Klasis (KMK) Amanuban Selatan Pdt. Yorim Y. Kause mengatakan asam Timor memiliki keunggulan karena mampu bertahan dalam kondisi iklim yang beragam di wilayah Timor.
Pernyataan tersebut disampaikan Pdt. Yorim saat dikonfirmasi media ini, Kamis (10/9/2026), terkait keberlanjutan program pembibitan yang telah diluncurkan pada 24 Agustus 2026.
Menurutnya, daya tahan tanaman asam Timor menjadi salah satu alasan mengapa komoditas tersebut layak terus dikembangkan masyarakat.
“Asam ini merupakan salah satu tanaman yang paling bertahan di semua iklim. Di situlah dia akan memproduksi buah yang banyak,” ujar Pdt. Yorim.
Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat asam Timor memiliki prospek ekonomi yang cukup menjanjikan bagi masyarakat Amanuban Selatan.
Selain relatif mudah dikembangkan, penanaman asam Timor juga tidak membutuhkan modal besar. Karena itu, tanaman tersebut dinilai cocok dikembangkan masyarakat, termasuk keluarga yang memiliki keterbatasan modal usaha.
“Asam menjadi komoditi yang bagus dan cocok di wilayah Amanuban Selatan dan tanpa modal,” katanya.
Atas dasar itu, GMIT Klasis Amanuban Selatan bersama jemaat terus mendorong pembibitan asam Timor.
“Karena itu kami lakukan pembibitan asam dan sudah launching di Silo Toifau,” jelasnya.
Pdt. Yorim menjelaskan, bibit asam Timor yang telah disiapkan melalui rumah pembibitan tersebut akan mulai dikembangkan lebih lanjut.
Rencananya, penanaman dilakukan pada November 2026 di lahan milik GMIT. Selain itu, sebagian bibit akan dibagikan kepada warga agar ditanam dan dikembangkan di lahan masing-masing.
“Anakan itu nanti akan ditanam bulan November di lahan GMIT dan juga dibagikan kepada warga,” ujarnya.
Menurutnya, langkah tersebut diharapkan menjadi gerakan bersama yang tidak berhenti pada kegiatan launching, tetapi terus berlanjut hingga tanaman tumbuh dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pdt. Yorim juga menyinggung kondisi sejumlah kawasan di wilayah Oebelo dan Toineke yang kini mendapat program cetak sawah rakyat.
Menurutnya, pembangunan sektor pertanian tersebut perlu tetap memperhatikan keberadaan tanaman produktif yang selama ini menjadi bagian dari sumber penghidupan masyarakat.
Ia menyebut adanya pohon-pohon asam yang ditebang dalam proses pembukaan lahan untuk program cetak sawah.
“Kita lihat di Oebelo dan Toineke ada program cetak sawah rakyat, di mana banyak pohon asam ditumbangkan. Karena itu kita ajak warga untuk tanam kembali,” katanya.
Menurutnya, penanaman kembali menjadi penting agar keberadaan asam Timor tidak semakin berkurang.
Ia menilai masyarakat tidak membutuhkan biaya besar untuk memulai penanaman asam. Ketika tanaman telah tumbuh dan produktif, hasilnya dapat menjadi sumber pendapatan keluarga.
“Tanam asam tidak keluarkan uang. Asam juga nilai ekonomi tinggi dan bisa jadi penopang keluarga,” tegasnya.
Akademisi Ir. Zet Malelak, M.Si., dalam kegiatan tersebut melihat asam Timor bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari perspektif antropologis masyarakat Timor.
Menurut Zet, masyarakat Atoin Meto memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan, tanah kering dan hutan sebagai bagian dari sumber kehidupan.
Dalam konteks tersebut, asam Timor memiliki posisi penting karena mampu beradaptasi dengan kondisi iklim dan topografi Timor sekaligus mempunyai nilai ekonomi.
Ia mengingatkan bahwa pembangunan harus memperhitungkan keberlanjutan kehidupan masyarakat dan lingkungan.
“Analisa pembangunan masyarakat tanpa memperhitungkan aspek antropologis masyarakat adalah sebuah kedangkalan logika policy,” tegas Zet.
Menurutnya, pembangunan tidak boleh hanya dilihat sebagai proyek, tetapi harus mempertimbangkan keberlanjutan hidup komunitas.
“Pembangunan adalah juga menyangkut daya tahan atau resilien, dan ketahanan adalah keberlanjutan komunitas,” katanya.
Zet menilai asam Timor merupakan komoditas ekonomi jangka panjang yang tetap memiliki peran penting bagi masyarakat.
Karena itu, kultur menanam perlu terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam kegiatan workshop, Zet juga memberikan pengetahuan kepada warga gereja mengenai teknik penyemaian benih asam Timor dan tanaman sengon.
Dukungan terhadap pengembangan komoditas asam Timor juga disampaikan Anggota DPRD TTS Hendrikus Babys.
Menurut Hendrikus, asam Timor memiliki nilai ekonomi tinggi dan permintaan pasar yang baik. Tanaman tersebut juga telah menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat selama bertahun-tahun.
“Asam Timor punya nilai ekonomi tinggi dan sangat diminta. Asam ini merupakan salah satu tanaman yang paling bertahan dan selama bertahun-tahun sudah jadi sumber penghasilan,” katanya.
Karena itu, Hendrikus menyatakan dukungannya terhadap gerakan pembibitan dan penanaman kembali asam Timor.
Namun, ia juga meminta pemerintah memperhatikan dampak lingkungan dari pembukaan lahan, termasuk dalam program cetak sawah rakyat di Oebelo dan Toineke.
Ia mendorong Dinas Lingkungan Hidup maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk turut melakukan kajian terhadap dampak lingkungan dari berkurangnya vegetasi dan pohon-pohon asam.
“Saya melihat bahwa dengan pengrusakan hutan asam, ke depan akan terjadi bencana. Jadi perlu dianalisa ke depan,” ujarnya.(Sys/ST).

















