Ket : Foto mahasiswa KKNT Gentaskin saat berada di Oenino
Laporan Reporter SUARA TTS.COM, Erik Sanu
SUARA TTS.COM | SOE – Polemik pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Gentaskin di Desa Oenino, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), memasuki babak baru.
Setelah sebelumnya Pemerintah Desa (Pemdes) Oenino menyampaikan sejumlah kritik terkait pelaksanaan KKNT yang berlangsung kurang lebih dua bulan, kini pihak mahasiswa bersama Dosen Pendamping Lapangan (DPL) memberikan klarifikasi.
Ketua Tim KKNT Gentaskin Desa Oenino, Catherine Muskananfola, menegaskan bahwa informasi yang menyebut mahasiswa hanya melaksanakan dua program kerja (proker) tidak sesuai dengan kegiatan yang telah mereka jalankan selama berada di desa.
Klarifikasi tersebut disampaikan Catherine kepada media ini, Rabu (2/9/2026), setelah pihak mahasiswa, DPL, LLDIKTI Wilayah XV, Pemerintah Kecamatan Oenino dan Pemerintah Desa Oenino melakukan koordinasi untuk meluruskan informasi yang beredar.
Catherine mengatakan, pada Rabu (2/9/2026), telah dilaksanakan rapat koordinasi melalui Zoom Meeting yang melibatkan panitia LLDIKTI Wilayah XV, perwakilan Camat Oenino, Kepala Desa Oenino, Dosen Pendamping Lapangan serta mahasiswa KKNT.
“Dari hasil rapat terkait berita yang mengatakan bahwa proker kami hanya dua itu tidak betul ya, Pak, karena kami sudah menjalankan proker yang ditetapkan dari Dikti,” ujar Catherine
Menurut Catherine, selama berada di Desa Oenino, mahasiswa telah menjalankan sejumlah kegiatan yang menyasar persoalan kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, sesuai dengan fokus KKNT Gentaskin pada isu stunting dan kemiskinan.
Ia merinci sejumlah program yang telah dilaksanakan mahasiswa, di antaranya edukasi stunting, pernikahan dini, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), gizi seimbang serta Community-Based Participatory Research (CBPR) di tingkat SD, SMP dan SMA.
Selain itu, mahasiswa juga melaksanakan edukasi CBPR bersama masyarakat Dusun II Oenino.
Program lainnya yakni inovasi pangan melalui pembuatan sampel tepung kelor dan pelatihan pembuatan bubur kelor.
Mahasiswa juga membuat pojok baca di SDN Oenino sebagai bagian dari program literasi serta membuat peta Desa Oenino.
Tidak hanya itu, mahasiswa turut menyelenggarakan lomba dalam rangka menyongsong HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dengan demikian, Catherine membantah anggapan bahwa kegiatan mahasiswa selama berada di Desa Oenino hanya sebatas membuat bedeng sayur dan peta desa.
“Selama berada di Desa Oenino, kami sudah menjalankan proker yang telah ditetapkan,” jelasnya.
Senada dengan Catherine, Dosen Pendamping KKNT, Mariano Firmansyah, mengatakan bahwa koordinasi telah dilakukan untuk meluruskan informasi yang berkembang terkait pelaksanaan KKNT Gentaskin di Desa Oenino.
Menurut Mariano, koordinasi melalui Zoom Meeting tersebut dilaksanakan pada Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 09.00 WITA dengan melibatkan berbagai pihak terkait.
“Kami sudah berkoordinasi dan meluruskan informasi yang beredar,” ujar Mariano.
Ia menjelaskan, selama berada di Desa Oenino, mahasiswa telah melaksanakan program kerja utama yang menyasar tiga bidang, yakni kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam bidang kesehatan dan edukasi, mahasiswa melaksanakan sosialisasi mengenai stunting, pernikahan dini, PHBS, gizi seimbang dan CBPR di SMA, SMP serta SDN Oenino.
Kemudian, mahasiswa juga memberikan edukasi CBPR bersama warga Dusun II Oenino.
Di bidang inovasi pangan, mahasiswa membuat sampel tepung kelor dan melaksanakan pelatihan pembuatan bubur kelor.
Sementara pada bidang pendidikan dan literasi, mahasiswa membuat pojok baca di SDN Oenino.
Untuk mendukung pemerintahan desa, mahasiswa membuat peta Desa Oenino.
Sedangkan di bidang kemasyarakatan, mahasiswa turut menyelenggarakan berbagai perlombaan dalam rangka menyongsong HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Catherine juga menjelaskan bahwa mahasiswa memiliki keterbatasan, terutama dari sisi anggaran dan kewenangan dalam menangani persoalan stunting.
Menurutnya, KKNT Gentaskin tidak serta-merta menempatkan mahasiswa sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh untuk menyelesaikan persoalan stunting di desa.
“Kami hanyalah mahasiswa KKNT Gentaskin yang prokernya berfokus pada stunting dan kemiskinan. Kami tidak memiliki uang yang cukup untuk membuat proyek besar, apalagi berkaitan dengan stunting yang merupakan masalah serius,” jelas Catherine.
Ia menilai persoalan stunting membutuhkan penanganan bersama dan berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat, keluarga serta berbagai pihak lainnya.
Mahasiswa, kata dia, memiliki peran untuk memberikan edukasi, pengetahuan dan mendorong pemberdayaan masyarakat melalui program yang telah ditetapkan.
“Jika hanya mengharapkan pada proker mahasiswa untuk menurunkan stunting maka tidak cukup, karena itu merupakan tugas dari pemerintah desa,” katanya.
Catherine menegaskan, kehadiran mahasiswa bukan untuk menyelesaikan persoalan stunting dalam waktu singkat.
“Kami datang hanya sebagai mediator untuk menyalurkan ilmu kami di Desa Oenino, bukan untuk membuat proker yang dibuat hari ini dan besoknya stunting langsung turun,” tegasnya.
Selain persoalan program kerja, pihak mahasiswa juga memberikan klarifikasi mengenai tudingan bahwa mahasiswa meninggalkan Desa Oenino tanpa berpamitan kepada Pemerintah Desa.
Catherine mengatakan, mahasiswa telah menyampaikan pamit secara langsung kepada Kepala Desa Oenino sebelum meninggalkan desa.
Menurutnya, prosesi pamitan tersebut dilakukan pada pagi hari di rumah Kepala Desa Oenino. Dalam kesempatan itu, mahasiswa juga memberikan cinderamata sebagai bentuk penghargaan dan kenang-kenangan.
“Terkait masalah pamit, kami mau meluruskan bahwa kami sudah berpamitan langsung dengan Kepala Desa dan Bunda Desa, bahkan ada pengalungan cinderamata,” ungkap Catherine.
Ia menjelaskan, saat mahasiswa berpamitan, Kepala Desa menyampaikan bahwa dirinya memiliki agenda lain yang harus diikuti pada pukul 09.00 WITA.
Pada saat yang sama, mahasiswa juga harus mengejar waktu karena memiliki agenda pelepasan atau penarikan di kampus Institut Pendidikan Soe (IPS) pada pukul 10.00 WITA.
“Tidak ada arahan khusus dari Pak Kepala Desa untuk berkumpul di kantor desa buat acara perpisahan karena yang Pak Kepala Desa sampaikan bahwa jam 09.00 beliau ada agenda lain yang tidak bisa ditunda, sedangkan kami mahasiswa harus buru waktu untuk mengikuti kegiatan penarikan di kampus IPS jam 10.00,” jelasnya.
Dosen Pendamping KKNT, Mariano Firmansyah, juga membenarkan bahwa mahasiswa telah menyampaikan pamit kepada Kepala Desa sebelum meninggalkan Desa Oenino.
“Mahasiswa telah menyampaikan pamit kepada Kepala Desa pada pagi hari sebelum meninggalkan desa di rumah Kepala Desa. Pada saat itu disampaikan bahwa Kepala Desa memiliki kegiatan lain pada pukul 09.00 WITA,” jelas Mariano.
Menurutnya, mahasiswa tidak menerima arahan khusus untuk melakukan proses penarikan di kantor desa.
“Pada hari yang sama, mahasiswa juga memiliki agenda pelepasan di kampus IPS Soe, sehingga setelah berpamitan mahasiswa bertolak ke kampus untuk mengikuti agenda tersebut,” tambahnya.(Sys/ST).

















