Example 728x250
Berita

Kades Oenino Luruskan Polemik KKNT, Foto Selendang Bukan Perpisahan

46
×

Kades Oenino Luruskan Polemik KKNT, Foto Selendang Bukan Perpisahan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60
Ket foto : Kepala Desa Oenino, Yedid Nenobais 

Laporan Reporter SUARA TTS.COM, Erik Sanu

SUARA TTS.COM | SOE – Polemik pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Gentaskin di Desa Oenino, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mendapat penjelasan dari Pemerintah Desa Oenino.

Example 300x600

Kepala Desa Oenino, Yedid Nenobais, meluruskan sejumlah informasi yang berkembang terkait pelaksanaan KKNT, termasuk foto dirinya bersama mahasiswa yang beredar di media sosial dan disebut-sebut sebagai momen perpisahan.

Yedid menegaskan, foto tersebut bukan merupakan momen perpisahan maupun saat mahasiswa berpamitan kepada pemerintah desa.

Menurutnya, foto itu diambil ketika mahasiswa memberikan cendera mata berupa selendang kepada dirinya dan istrinya sebagai bentuk ucapan terima kasih karena telah menyediakan tempat tinggal bagi mahasiswa selama menjalankan program KKNT di Desa Oenino.

“Jadi yang terkait dengan foto yang beredar, yang ada penyematan selendang itu ketika saya menggunakan pakaian dinas, momennya berbeda. Itu bukan momen perpisahan,” jelas Yedid kepada media ini, Kamis (3/9/2026).

Ia menjelaskan, pemberian selendang tersebut berlangsung pada pagi hari ketika dirinya hendak berangkat bekerja. Saat itu, mahasiswa memberikan selendang sebagai cendera mata kepada dirinya dan istri.

“Saya tanya, selendang ini untuk apa? Mereka bilang ini cendera mata dan ucapan terima kasih untuk Bapak dengan Bunda,” katanya.

Karena dirinya sudah mengenakan pakaian dinas dan hendak menuju kantor desa, Yedid kemudian meminta agar selendang tersebut diberikan kepada istrinya.

“Saya bilang ini untuk Bunda saja, tidak usah untuk saya, karena saya sudah pakai pakaian seragam. Kalau untuk pemerintah desa nanti di kantor, bukan di sini,” ujarnya.

Yedid juga menegaskan bahwa foto tersebut diambil di rumah yang menjadi posko tempat mahasiswa tinggal, bukan di Kantor Desa Oenino.

Ia menyebut, saat itu para mahasiswa masih menggunakan pakaian rumah. Karena itu, menurutnya, tidak tepat apabila foto tersebut kemudian diberi narasi sebagai momen perpisahan.

“Kalau memang itu foto perpisahan atau foto mereka pamit, kenapa tidak foto bersama? Dalam perpisahan seharusnya ada perangkat desa, ada perwakilan masyarakat,” tegasnya.

Yedid menjelaskan, agenda perpisahan mahasiswa KKNT sebenarnya telah dibicarakan sejak jauh-jauh hari.

Rencananya, kegiatan perpisahan dilaksanakan di Kantor Desa Oenino dan melibatkan pemerintah desa serta pihak-pihak terkait.

Sebelum meninggalkan desa, mahasiswa juga akan memaparkan program kerja yang telah dilaksanakan selama menjalankan KKNT, termasuk program yang sudah terlaksana maupun yang belum terlaksana.

Untuk program yang belum terlaksana, kata Yedid, akan dilakukan penyerahan kepada Pemerintah Desa Oenino melalui berita acara.

“Jadi saya sampaikan, foto yang beredar itu bukan momen perpisahan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Yedid juga mengungkapkan bahwa Dosen Pendamping Lapangan (DPL) telah menyampaikan permintaan maaf terkait mahasiswa KKNT yang meninggalkan Desa Oenino tanpa berpamitan secara resmi kepada pemerintah desa.

Menurut Yedid, ketika mahasiswa pertama kali tiba di Desa Oenino, dirinya bersama masyarakat tetap menerima kedatangan mereka meskipun berlangsung pada malam hari.

Hal tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari tradisi masyarakat setempat dalam menyambut warga baru yang datang ke desa.

Namun, sejak awal dirinya telah menyampaikan bahwa setelah menyelesaikan kegiatan KKNT, mahasiswa seharusnya melakukan proses pamitan secara resmi di Kantor Desa pada jam kerja.

“Dosen sudah mengakui itu dan dosen sudah minta maaf terkait itu,” ungkap Yedid.

Yedid mengaku menyesalkan terjadinya miskomunikasi antara mahasiswa, dosen pendamping dan pemerintah desa.

Menurutnya, apabila terdapat keluhan mahasiswa selama berada di desa, persoalan tersebut sebaiknya dikomunikasikan terlebih dahulu dengan pemerintah desa agar dapat dicari jalan keluar bersama.

“Saya juga sebaiknya menyesali itu karena ketika ada pengaduan dari anak-anak KKNT kepada dosen, sebaiknya dosen bisa komunikasi dengan saya. Bukan setelah berita ini viral baru dosen mengucapkan bahwa ada keluhan-keluhan,” katanya.

Ia menegaskan, Pemerintah Desa Oenino tidak memiliki niat maupun kepentingan tertentu terhadap mahasiswa KKNT.

Pemerintah desa, kata Yedid, hanya menjalankan peran sebagai tuan rumah dan menerima mahasiswa sesuai arahan pihak perguruan tinggi maupun LLDIKTI.

“Kami pemerintah desa tidak ada niat atau kepentingan apa terkait dengan mahasiswa. Kami welcome menerima mereka sesuai dengan arahan dari Dikti untuk mereka KKNT di desa kami,” tegasnya.

Yedid berharap polemik tersebut menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar komunikasi dapat dibangun secara lebih baik.

Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya pengguna media sosial, agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan foto atau informasi yang beredar.

“Sebagai pengguna sosial media, kita harus bijak dalam menyikapi segala persoalan yang ada. Kita harus bisa bedakan mana yang real dan mana yang tidak,” ujarnya.

Ia meminta masyarakat melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait sebelum menyimpulkan suatu persoalan.

“Jangan membuat kesimpulan yang di luar dari pengetahuan kita. Konfirmasi kepada pihak yang bersangkutan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Yedid berharap polemik yang terjadi dapat menjadi bahan evaluasi bagi pelaksanaan KKN maupun KKNT ke depan.

Menurutnya, kegiatan KKN seharusnya tidak hanya berorientasi pada hubungan dengan kepala desa atau individu tertentu, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“KKN itu saya mau sampaikan bahwa ke depan harus ada evaluasi supaya kalau ada KKN lagi tidak terulang lagi hal yang sama,” katanya.

Ia menegaskan, keberadaan mahasiswa di desa harus berorientasi pada pengabdian dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Tujuan KKN itu bukan datang untuk kepala desa atau orang per orang atau individu, tetapi datang untuk masyarakat desa yang ada, dan minimal membawa dampak atau kesan untuk masyarakat,” pungkasnya.(Sys/ST)

Example 300250
Example 120x600