Example 728x250
BeritaPENDIDIKAN

Libatkan 22 Sekolah, MGMP Zona 4 TTS Fokus Samakan Perangkat Pembelajaran

32
×

Libatkan 22 Sekolah, MGMP Zona 4 TTS Fokus Samakan Perangkat Pembelajaran

Sebarkan artikel ini
Example 468x60
Ket foto ; Nampak kegiatan MGMP jenjang SMP Zona 4

Laporan Reporter SUARA TTS.COM, Erik Sanu

SUARA TTS.COM | SOE – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi dibuka secara daring oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS, Apris A. Manafe, SE, M.M., di SMP Negeri 1 Soe, Selasa (27/10/2026).

Example 300x600

Kegiatan ini diikuti para guru SMP yang tersebar dalam delapan zona MGMP. Para peserta mengikuti pembukaan secara daring dari lokasi pelaksanaan kegiatan di zona masing-masing.

Salah satunya adalah MGMP Zona 4 yang dipusatkan di SMP Negeri Ki’e. Kegiatan yang berlangsung selama satu hari tersebut melibatkan perwakilan dari 22 sekolah dan berfokus pada penyamaan persepsi guru dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran.

Pembahasan meliputi penyusunan Capaian Pembelajaran (CP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), perencanaan pembelajaran mendalam (deep learning), hingga pelaksanaan asesmen.

Koordinator MGMP Zona 4, Arid Nati, S.Pd., yang juga menjabat sebagai Kepala SMP Negeri Oenia, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah bagi para guru untuk memperkuat kompetensi dan menyelaraskan persiapan pembelajaran sesuai mata pelajaran masing-masing.

Menurut Arid, keterlibatan 22 sekolah menunjukkan pentingnya kolaborasi antarguru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di Kabupaten TTS.

“Sepuluh mata pelajaran dibagi ke dalam sepuluh ruang kelas. Masing-masing kelompok membahas perangkat pembelajaran sesuai mata pelajaran, mulai dari CP, ATP, perencanaan pembelajaran mendalam, sampai asesmen,” jelas Arid saat diwawancarai.

Ia menjelaskan, pembagian kelompok berdasarkan mata pelajaran bertujuan agar diskusi berlangsung lebih terarah. Para guru dapat bertukar pengalaman, membahas kebutuhan pembelajaran, serta menyamakan pemahaman dalam menyusun dan menerapkan perangkat pembelajaran di sekolah masing-masing.

Melalui kegiatan tersebut, para guru diharapkan memiliki pemahaman yang selaras mengenai perencanaan hingga pelaksanaan pembelajaran sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan lebih efektif.

Arid berharap kegiatan MGMP dapat mendorong seluruh SMP di Kabupaten TTS menggunakan perangkat pembelajaran yang selaras, termasuk dalam pemanfaatan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid.

Menurutnya, kesamaan persepsi dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan seluruh murid memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas, baik di sekolah perkotaan maupun di wilayah pedesaan dan pedalaman.

“Harapan saya, setelah kegiatan ini, seluruh SMP di Timor Tengah Selatan dapat menggunakan perangkat pembelajaran yang sama dan media pembelajaran yang sesuai, sehingga tidak ada perbedaan antara sekolah di kota dan sekolah-sekolah di wilayah pedalaman,” ungkapnya.

Ia menambahkan, MGMP harus terus dimanfaatkan sebagai wadah kolaborasi profesional bagi para guru untuk meningkatkan kompetensi, mendiskusikan kendala pembelajaran, serta berbagi praktik baik yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.

Dengan kolaborasi tersebut, para guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih terarah, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan murid.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS, Apris A. Manafe, mendorong para guru SMP untuk terus berinovasi dalam pembelajaran guna meningkatkan kualitas pendidikan dan hasil belajar murid.

Dorongan tersebut disampaikan Apris saat membuka kegiatan MGMP tingkat SMP se-Kabupaten TTS di SMP Negeri 1 Soe.

Dalam arahannya, Apris menegaskan bahwa MGMP tidak boleh hanya menjadi tempat berkumpul atau melaksanakan pertemuan rutin. Sebaliknya, MGMP harus menjadi wadah profesional bagi guru untuk belajar bersama, mengembangkan inovasi, berbagi pengalaman, dan mencari solusi atas berbagai persoalan pembelajaran di sekolah.

Ia juga mengapresiasi pengurus dan anggota MGMP yang terus menunjukkan komitmen dalam meningkatkan kompetensi profesional guru dan mutu pendidikan di Kabupaten TTS.

Menurutnya, tantangan pendidikan yang semakin kompleks membutuhkan kerja sama, kreativitas, dan keseriusan seluruh tenaga pendidik agar setiap murid memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas.

Apris berharap kegiatan MGMP di delapan zona tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi juga menghasilkan langkah konkret untuk memperbaiki proses pembelajaran di sekolah masing-masing.

Apris meminta para guru terus meningkatkan kemampuan dalam menerapkan pembelajaran mendalam (deep learning), menyusun perangkat pembelajaran berkualitas, menggunakan metode kreatif, serta menerapkan asesmen sesuai kebutuhan murid.

Ia mengingatkan bahwa pembelajaran tidak boleh hanya berorientasi pada penyelesaian materi pelajaran. Guru harus memastikan murid benar-benar memahami materi yang dipelajari dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Proses pembelajaran juga perlu memberikan ruang bagi murid untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, berkomunikasi, dan menghasilkan karya.

Selain mendorong inovasi pembelajaran, Apris menekankan pentingnya peningkatan kemampuan literasi, numerasi, dan hasil belajar murid sebagai prioritas dalam program MGMP.

Ia berharap setiap kelompok MGMP mampu menyusun program yang terarah dan berkelanjutan untuk membantu murid meningkatkan kemampuan memahami bacaan, mengolah informasi, menggunakan angka, serta menyelesaikan persoalan secara logis.

Menurutnya, persoalan rendahnya hasil belajar tidak cukup hanya disampaikan sebagai laporan. Guru dan pengurus MGMP perlu mengidentifikasi penyebabnya, menentukan langkah perbaikan, serta mengukur perkembangan hasil belajar setelah program dilaksanakan.

Karena itu, setiap kegiatan MGMP harus memiliki tujuan yang jelas, indikator keberhasilan yang terukur, serta manfaat nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran.

Untuk memastikan program berjalan efektif, Apris meminta setiap MGMP melaksanakan evaluasi dan menyusun laporan kegiatan secara berkala sesuai mekanisme yang ditetapkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan MGMP tidak boleh hanya diukur berdasarkan jumlah pertemuan atau tingkat kehadiran peserta. Hal yang lebih penting adalah perubahan kualitas mengajar guru dan peningkatan hasil belajar murid.

Setiap pengurus MGMP diharapkan mampu menjelaskan program yang telah dilaksanakan, hasil yang dicapai, manfaat kegiatan bagi guru, serta dampaknya terhadap perkembangan belajar murid.

Evaluasi tersebut penting agar kegiatan MGMP tidak berhenti pada tahap perencanaan dan pelaksanaan, tetapi benar-benar menghasilkan perbaikan yang dapat dirasakan di lingkungan sekolah.

Apris juga menekankan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pengawas sekolah, kepala sekolah, pengurus MGMP, guru, orang tua, serta seluruh pemangku kepentingan pendidikan.(Sys/ST)

Example 300250
Example 120x600