Ket foto: Nampak Yonatan Abanat saat berada di lokasi reservoir
Laporan Reporter SUARA TTS.COM, Erik Sanu
SUARA TTS.COM | SOE – Persoalan pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Naukae, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), hingga kini belum menemukan kejelasan.
Dampaknya, warga Desa Tetaf mengaku kesulitan mendapatkan air bersih dari fasilitas SPAM yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp3,2 miliar tersebut.
Sejumlah warga Tetaf yang ditemui Sabtu (7/11/2026) mengatakan, air dari SPAM Naukae hanya sempat mengalir ketika dilakukan uji coba. Setelah itu, aliran air ke wilayah mereka tidak lagi berjalan secara normal.
“Air mengalir saat uji coba, setelah itu tidak lagi,” ujar warga Tetaf, David Kikhau.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya. Mereka mempertanyakan manfaat proyek tersebut karena fasilitas yang sudah dibangun belum mampu memberikan kepastian pelayanan air bersih secara berkelanjutan.
Persoalan tersebut tidak hanya dirasakan warga, tetapi juga menjadi beban bagi warga yang selama ini diminta membantu membuka dan mengatur distribusi air.
Yonatan Abanat, warga Naukae yang sejak peresmian SPAM diminta membantu membuka aliran air kepada masyarakat sambil menunggu adanya kejelasan mengenai pengelolaan fasilitas tersebut.
Sebelumnya, PPK proyek SPAM Naukae, Benny Missa, mengatakan pengelolaan SPAM tersebut belum jelas karena proses penyerahan fasilitas kepada pihak pengelola belum dilakukan.
Dalam kondisi tersebut, Yonatan dipercaya untuk sementara membantu membuka dan membagi aliran air kepada masyarakat.
Yonatan saat ditemui menjelaskan bahwa terdapat beberapa reservoir yang melayani wilayah berbeda.
Menurutnya, reservoir yang berada di sekitar rumahnya melayani masyarakat menuju wilayah Manikin. Untuk jalur tersebut, ia menyebut aliran air masih berjalan cukup lancar dan hal itu juga diakui oleh warga yang berada di jalur Manikin.
Namun, persoalan berbeda terjadi pada reservoir yang berada di sekitar Kantor Camat Kuatnana.
Reservoir tersebut melayani warga Tetaf dan sebagian wilayah Naukae. Menurut Yonatan, reservoir inilah yang menjadi salah satu persoalan karena pengoperasiannya membutuhkan dirinya untuk datang secara langsung.
“Kalau reservoir yang di rumah saya, melayani masyarakat arah Manikin dan airnya mengalir lancar. Yang menjadi kendala itu reservoir dekat kantor camat karena saya harus bolak-balik untuk membuka air,” jelas Yonatan.
Ia mengaku kewalahan karena harus mengeluarkan biaya pribadi setiap kali pergi membuka aliran air.
“Saya merasa kewalahan karena setiap kali jalan harus bayar ojek pulang-pergi. Saya merasa ini kerja sosial, jadi biarkan saja,” ungkapnya.
Yonatan mengaku sejak peresmian, dirinya diminta oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) untuk membantu distribusi air hingga ada keputusan mengenai pengelolaan SPAM Naukae.
Namun, menurutnya, setelah waktu berjalan cukup lama, belum ada keputusan yang jelas mengenai siapa yang secara resmi bertanggung jawab terhadap pengoperasian dan distribusi air.
Ia mengaku kondisi tersebut membuat dirinya merasa berada dalam posisi yang sulit.
“Saya sudah sampaikan kepada kepala desa maupun dinas terkait, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan,” katanya.
Yonatan juga mengaku tidak ingin terus menjadi pihak yang disalahkan masyarakat ketika air tidak mengalir.
“Saya merasa hanya dimanfaatkan. Saya juga tidak mau menjadi sasaran amukan warga,” ujarnya.
Saat media ini melakukan pengecekan langsung terhadap reservoir yang berada di sekitar Kantor Camat Kuatnana, Sabtu (7/11/2026), tidak terlihat adanya aktivitas pengoperasian.
Pintu reservoir tampak terkunci rapat. Di sekitar bangunan juga terlihat dedaunan kering.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena reservoir tersebut disebut melayani wilayah Tetaf dan sebagian Naukae, sementara warga Tetaf mengaku air tidak mengalir.
Yonatan mengatakan, air memang sempat dialirkan ke wilayah tersebut, tetapi pengoperasiannya tidak dapat berlangsung secara rutin karena keterbatasan dirinya untuk terus datang membuka aliran.
Ia berharap pemerintah daerah segera mengambil keputusan terkait pengelolaan SPAM Naukae agar tidak terus membebankan pengoperasian kepada masyarakat secara pribadi.
Menurutnya, fasilitas yang sudah dibangun seharusnya memiliki sistem pengelolaan yang jelas, termasuk siapa yang bertanggung jawab membuka aliran, melakukan pemeliharaan, serta memastikan air sampai kepada masyarakat.
Warga Tetaf menilai persoalan tersebut harus segera diselesaikan pemerintah daerah. Sebab, keberadaan SPAM seharusnya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar air bersih.
Warga tidak hanya membutuhkan bangunan reservoir dan jaringan perpipaan, tetapi juga kepastian bahwa air dapat mengalir secara rutin.
Mereka berharap Pemkab TTS segera memperjelas status pengelolaan SPAM Naukae, termasuk pihak yang bertanggung jawab terhadap operasional dan pemeliharaan jaringan.
Dengan belum jelasnya pengelolaan tersebut, warga khawatir fasilitas yang telah dibangun dengan anggaran sekitar Rp3,2 miliar tidak memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Sementara itu, keterangan PPK sebelumnya menyebut bahwa persoalan utama berada pada proses pengelolaan dan penyerahan fasilitas. Karena itu, diperlukan keputusan yang jelas dari pemerintah daerah agar operasional SPAM tidak bergantung pada inisiatif warga secara pribadi.(Sys/ST)

















