Example 728x250
Berita

Wagub NTT: Gereja Harus Jadi Motor Kesejahteraan

158
×

Wagub NTT: Gereja Harus Jadi Motor Kesejahteraan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60
Ket foto : Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma 

Laporan Reporter SUARA TTS.COM,Erik Sanu 

SUARA TTS.COM | SOE – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menegaskan bahwa gereja tidak boleh hanya berperan dalam kehidupan rohani, tetapi juga harus menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat.

Example 300x600

Hal tersebut disampaikan saat menghadiri Sidang Majelis Daerah Khusus Gembala Badan Pengurus Daerah (BPD) NTT Gereja Bethel Indonesia (GBI) di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Rabu (6/5/2026) malam.

Sebanyak 427 gembala GBI dari berbagai wilayah di NTT turut hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Belu, Malaka, Rote Ndao, Sabu Raijua, Alor, Flores Timur hingga Flores Barat.

Dalam sambutannya, Johni Asadoma menyampaikan apresiasi atas peran GBI yang selama ini dinilai konsisten berkontribusi dalam pembangunan rohani sekaligus sosial kemasyarakatan.

“Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, saya menyampaikan apresiasi kepada GBI yang terus mengambil bagian dalam membangun kehidupan rohani dan sosial masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan, gereja memiliki peran strategis sebagai agen pembawa damai sejahtera. Menurutnya, damai tidak hanya berarti ketiadaan konflik, tetapi juga terciptanya kehidupan yang rukun dan harmonis, sementara kesejahteraan mencerminkan kondisi hidup yang layak.

“Kalau gereja hadir tetapi masih ada konflik, kekerasan, dan persoalan sosial di sekitarnya, maka peran gereja perlu diperkuat,” tegasnya.

Wagub juga menyoroti sejumlah tantangan sosial ekonomi di NTT, termasuk angka kemiskinan yang masih berada di kisaran 17,5 persen dari total sekitar 5,7 juta penduduk pada tahun 2025.

Selain itu, ia menyinggung masih banyaknya pekerja yang menerima upah rendah, bahkan hanya berkisar Rp800 ribu hingga Rp1 juta per bulan, yang dinilai belum mencukupi kebutuhan hidup layak.

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah tingginya angka stunting. Menurutnya, kondisi ini tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi, tetapi juga rendahnya tingkat pendidikan serta pola pengelolaan keuangan keluarga.

Ia mencontohkan kebiasaan pengeluaran untuk rokok dan minuman keras yang bisa mencapai Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per hari, yang seharusnya dapat dialihkan untuk pemenuhan gizi keluarga seperti telur, ikan, dan sayuran.

Karena itu, Johni Asadoma mengajak gereja untuk lebih aktif mengedukasi jemaat agar mengubah pola hidup dan memprioritaskan kesehatan keluarga, khususnya bagi ibu hamil dan anak-anak.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung kondisi global yang tidak stabil akibat konflik di berbagai negara yang berdampak pada kenaikan harga energi dan kebutuhan pokok. Ia mengajak seluruh elemen gereja untuk turut mendoakan perdamaian dunia.

Menutup sambutannya, Wagub kembali menegaskan pentingnya peran gereja dalam mendukung pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.

“Anak-anak tidak boleh putus sekolah. Masa depan daerah dan bangsa ada di tangan mereka,” tandasnya.(Sys)

Example 300250
Example 120x600