Ket.Foto : Nampak kondisi jalan di Kecamatan SantianĀ
OPINI

Penulis: Fanggi Ninu
SUARATTS.COM – Beberapa waktu ini, masyarakat Kecamatan Santian menerima kabar baik dengan adanya bantuan kendaraan operasional untuk menunjang pelayanan kesehatan.
Terobosan tersebut tentu patut diapresiasi sebagai bentuk perhatian terhadap kebutuhan masyarakat di wilayah yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan akses layanan dasar.
Sebagai masyarakat, saya mengucapkan terima kasih kepada Pihak yang telah melaksanakan program tersebut.
Namun, apresiasi tidak berarti menghilangkan ruang untuk memberikan masukan. Justru sebagai masyarakat yang merasakan langsung kondisi di lapangan, kami memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan pandangan agar setiap kebijakan pembangunan benar-benar menjawab persoalan utama yang dihadapi masyarakat.
Menurut saya, persoalan mendasar pelayanan kesehatan di Kecamatan Santian bukan semata-mata kekurangan kendaraan operasional. Persoalan yang jauh lebih mendesak adalah kondisi infrastruktur jalan yang hingga hari ini masih menjadi hambatan utama mobilitas masyarakat maupun tenaga kesehatan.
Kendaraan operasional memang penting. Ambulans atau mobil pelayanan kesehatan dapat mempercepat penanganan pasien dalam kondisi darurat. Namun, kendaraan secanggih apa pun tetap membutuhkan jalan yang layak untuk beroperasi.
Tanpa infrastruktur yang memadai, kecepatan pelayanan akan tetap terhambat oleh jalan yang berlumpur, berlubang, atau bahkan tidak dapat dilalui saat musim hujan.
Pertanyaannya sederhana: bagaimana mungkin sebuah kendaraan dapat memberikan pelayanan maksimal apabila akses menuju masyarakat justru menjadi kendala terbesar?
Inilah yang menurut saya perlu menjadi bahan evaluasi dalam menentukan prioritas pembangunan. Jangan sampai solusi yang diberikan hanya menyentuh permukaan persoalan, sementara akar masalahnya masih dibiarkan bertahun-tahun tanpa penyelesaian.
Di kecamatan ini terdapat Desa Nenotes, Desa Santian, Desa Poli Desa Naifatu, dan Desa Manufui. Seluruh desa tersebut sangat bergantung pada kondisi jaringan jalan sebagai penghubung menuju Puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya.
Setiap musim hujan, masyarakat kembali menghadapi kenyataan yang sama. Jalan menjadi licin, berlumpur, dan sulit dilalui kendaraan. Dalam kondisi seperti ini, yang paling merasakan dampaknya bukan hanya masyarakat yang sakit, tetapi juga para tenaga kesehatan.
Tidak sedikit tenaga medis yang mengeluhkan sulitnya menjangkau wilayah pelayanan karena kondisi jalan yang memprihatinkan.
Artinya, kendala utama bukan terletak pada ketersediaan kendaraan, melainkan pada kemampuan kendaraan tersebut untuk mencapai masyarakat yang membutuhkan pelayanan.
Bila kita melihat pembangunan secara lebih luas, infrastruktur jalan memiliki manfaat yang jauh melampaui sektor kesehatan. Jalan yang baik akan memperlancar distribusi hasil pertanian sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat.
Anak-anak dapat berangkat ke sekolah dengan lebih aman dan nyaman. Aktivitas perdagangan menjadi lebih hidup karena biaya transportasi menurun. Pelayanan pemerintahan juga menjadi lebih efektif karena mobilitas aparatur tidak lagi terhambat.
Dengan kata lain, satu pembangunan jalan mampu memberikan dampak positif bagi banyak sektor sekaligus: kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga pelayanan publik.
Karena itu menurut hemat saya bahwa pembangunan jalan seharusnya menjadi prioritas utama saat ini, sementara pengadaan kendaraan operasional menjadi pelengkap yang akan berfungsi optimal setelah infrastruktur dasar tersedia.
Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa kendaraan yang diberikan memang dirancang sesuai kondisi medan di Kecamatan Santian. Pendapat tersebut tentu tidak salah.
Akan tetapi, kita juga perlu bertanya: apakah masyarakat akan terus menerima kondisi jalan yang buruk sebagai sesuatu yang harus dimaklumi? Sampai kapan kendaraan dengan spesifikasi khusus harus menjadi solusi atas jalan yang tidak kunjung diperbaiki?
Pembangunan seharusnya tidak berhenti pada kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan keterbatasan. Pembangunan justru harus menghilangkan keterbatasan tersebut agar kualitas hidup masyarakat meningkat dari waktu ke waktu. Yang sering menjadi persoalan di lapangan justru akses jalan yang memperlambat perjalanan menuju desa-desa pelayanan, terutama ketika musim penghujan tiba.
Dalam situasi seperti itu, penambahan kendaraan belum tentu memberikan perubahan yang signifikan apabila hambatan utamanya belum diselesaikan.
Tentu tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mengecilkan arti bantuan kendaraan operasional ataupun mengurangi penghargaan kepada pihak yang telah memperjuangkannya.
Sebaliknya, tulisan ini merupakan bentuk harapan agar kebijakan pembangunan berikutnya lebih tepat sasaran dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Masyarakat Kecamatan Santian membutuhkan pembangunan yang menyentuh akar persoalan. Kami membutuhkan jalan yang layak agar pelayanan kesehatan benar-benar cepat, hasil pertanian mudah dipasarkan, anak-anak dapat bersekolah dengan aman, dan aktivitas ekonomi dapat berkembang.
Jalan yang baik akan menjadi fondasi bagi keberhasilan berbagai program pemerintah lainnya.
Sebagai wakil rakyat, tentu kami percaya bahwa setiap kebijakan yang diambil berangkat dari niat baik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Oleh karena itu, kami berharap aspirasi mengenai kondisi infrastruktur jalan di Kecamatan Santian juga mendapat perhatian yang sama seriusnya. Pembangunan tidak cukup hanya terlihat secara simbolis, tetapi harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, pelayanan kesehatan yang berkualitas bukan hanya ditentukan oleh kendaraan operasional atau fasilitas medis. Pelayanan yang berkualitas lahir dari sistem yang saling mendukung, termasuk tersedianya infrastruktur jalan yang memadai.
Ambulans memang dapat menyelamatkan nyawa, tetapi ambulans dapat bekerja secara maksimal apabila tersedia jalan yang memungkinkan kendaraan itu sampai kepada pasien tepat waktu.
Sudah saatnya pembangunan di Kecamatan Santian tidak hanya berbicara tentang menghadirkan fasilitas baru, tetapi juga memastikan bahwa fasilitas tersebut dapat digunakan secara efektif.
Sebab, pembangunan yang berhasil bukanlah pembangunan yang paling banyak diresmikan, melainkan pembangunan yang paling besar manfaatnya bagi masyarakat. **

















