Ket foto : Nampak Bupati TTS, Eduard Markus Lioe saat melakukan penandatanganan pada kegiatan launching Kampung Pendidikan GMIT di Kuatnana
Laporan Reporter SUARA TTS.COM, Erik Sanu
SUARA TTS.COM | SOE – Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Eduard Markus Lioe, S.IP., S.H., M.H., secara resmi melaunching program Kampung Pendidikan GMIT di Stadion Mini Napoleon Faot, Desa Tetaf, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten TTS, Nusa Tenggara Timur, Senin (19/10/2026).
Program inovasi yang digagas Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) melalui Yapenkris Tois Neno ini hadir sebagai upaya membangun ekosistem pendidikan berbasis komunitas dengan melibatkan keluarga, gereja, dan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang anak-anak.
Peluncuran tersebut dihadiri Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel Benyamin Pandie, S.Th., jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten TTS, serta masyarakat setempat.
Dalam kesempatan itu, Bupati Eduard Markus Lioe menyampaikan apresiasi kepada GMIT atas inisiatif menghadirkan Kampung Pendidikan. Ia berharap program tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi anak-anak, terutama dalam mendukung proses belajar, pembentukan karakter, dan peningkatan kualitas pendidikan di wilayah Kabupaten TTS.
Menurut Bupati, pendidikan merupakan salah satu fondasi penting dalam mempersiapkan generasi muda yang berkualitas. Karena itu, upaya membangun sumber daya manusia tidak hanya bergantung pada lembaga pendidikan formal, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga, gereja, dan lingkungan masyarakat.
Kampung Pendidikan GMIT diharapkan menjadi salah satu wadah untuk memperkuat kolaborasi tersebut sehingga anak-anak dapat bertumbuh dalam lingkungan yang mendukung perkembangan pengetahuan, keterampilan, moral, dan karakter.
Tiga Pilar Utama Kampung Pendidikan GMIT
Kampung Pendidikan GMIT mengusung konsep kolaborasi tripartit yang bertumpu pada tiga pilar utama, yakni rumah sebagai sekolah pertama, gereja sebagai pusat belajar, dan masyarakat sebagai pengasuh bersama.
Pertama, rumah sebagai sekolah pertama.
Melalui pilar ini, orang tua didorong untuk kembali mengambil peran utama dalam mendidik anak-anak di lingkungan keluarga. Mama dan bapa diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari anak, tetapi juga terlibat dalam membangun kedisiplinan, tanggung jawab, nilai moral, serta kebiasaan belajar sejak dini.
Keluarga menjadi fondasi awal dalam pembentukan karakter anak sebelum mereka memperoleh pendidikan yang lebih luas di sekolah dan lingkungan sosial.
Kedua, gereja sebagai pusat belaja.
Program ini mendorong pemanfaatan fasilitas gereja tidak hanya untuk kegiatan ibadah, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan potensi anak.
Gedung gereja diharapkan dapat menjadi tempat bimbingan belajar, pelatihan musik, serta kegiatan pembinaan karakter Kristen yang dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan akademik maupun nonakademik.
Ketiga, masyarakat sebagai pengasuh bersama.
Kampung Pendidikan GMIT juga menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam mendukung pendidikan anak.
Tetangga, tokoh adat, pemuda, dan berbagai unsur masyarakat diharapkan ikut membangun budaya peduli terhadap anak-anak di lingkungan masing-masing. Semangat gotong royong menjadi salah satu kekuatan untuk menciptakan lingkungan yang aman, ramah, dan mendukung proses belajar.
Melalui program Kampung Pendidikan, GMIT berharap setiap kampung di wilayah pelayanannya dapat bertransformasi menjadi lingkungan belajar yang ramah dan mendukung perkembangan anak.
Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab sekolah semata, tetapi sebagai tanggung jawab bersama yang dimulai dari rumah, diperkuat melalui gereja, dan ditumbuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperluas kesempatan belajar bagi anak-anak sekaligus memperkuat keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam mengawasi serta mendampingi proses tumbuh kembang generasi muda.
Peluncuran Kampung Pendidikan GMIT di Kecamatan Kuatnana menjadi momentum untuk mendorong sinergi antara gereja, pemerintah, keluarga, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten TTS.(Sys)

















