Example 728x250
BeritaOpini

Suara Jalan Raya: Klakson Mobil sebagai simbol Ritme Kehidupan Modern

45
×

Suara Jalan Raya: Klakson Mobil sebagai simbol Ritme Kehidupan Modern

Share this article
Example 468x60

Oleh

Lesly Narwasti Ndun, S.Pd.,M.Hum

Example 300x600

SUARA TTS.COM | SOE – Tahun 2009, saat asyik mengikuti kelas Apresiasi Sastra, saya tiba-tiba disuguhkan sebuah artikel berjudul “Klakson Mobil.” Siapa sangka, sesuatu yang sering kita anggap sepele seperti bunyi klakson mobil bisa memiliki cerita sendiri? Artikel ini seperti membuka pintu rahasia, mengajarkan saya bahwa klakson sebenarnya bisa jadi lebih dari sekedar suara di jalan. Dari situ, saya sadar bahwa setiap bunyi klakson sebenarnya mengandung pesan, emosi, atau mungkin kisah seru sang pengemudi. Mulai saat itu, klakson bukan lagi sekedar sembarang bunyi, melainkan seperti “buku harian suara” di jalanan. Mari kita simak bersama latar belakang dan arti di balik klakson mobil, bunyi yang selama ini luput dari perhatian kita.

Klakson, yang sejatinya dirancang sebagai alat komunikasi di jalan raya, tak dapat dipungkiri juga memancarkan makna budaya yang lebih dalam. Di balik setiap “klakson” “biiiiip” “piiiiiiip” atau apapun sebutan kita, tersirat pesan-pesan tersembunyi tentang kecepatan, kasih sayang, ketidaksabaran, dan terkadang, ketidakpuasan.

Dalam dunia yang terus bergerak maju dengan laju tak terbendung, klakson mobil bukan hanya menjadi instrumen teknis untuk memberikan peringatan, tetapi juga mencerminkan bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam tulisan ini, kita akan merenungkan lebih jauh tentang fenomena klakson mobil sebagai cermin budaya tertentu, mencoba memahami apa yang dapat diungkapkan oleh suara yang mungkin sering dianggap sepele ini.

Joshua Brophy menulis dalam blognya bahwa suara klakson mobil lebih dari sekedar peringatan di jalan raya. Baginya, suara klakson adalah tanda agresi yang tidak bersahabat dan gangguan yang merusak kedamaian komunitas kota kecil tempat tinggalnya. Menurut pendapatnya, klakson mobil tidak hanya menghancurkan kenyamanan sehari-hari, tetapi juga menciptakan ketegangan yang tidak diinginkan di lingkungan tengah kota kecil yang erat. Brophy mungkin menujukan ketidaksetujuannya terhadap bagaimana suara klakson, yang seharusnya menjadi alat komunikasi, telah berkembang menjadi sumber ketidaknyamanan dan konflik di dalam komunitasnya.

Pandangannya ini mengajak kita untuk berpikir tentang pesan tersirat dalam setiap pertanyaan klakson yang terdengar serta respon yang muncul sesudahnya.

Menurut teori akustik, istilah “tanduk” merujuk pada perangkat berbentuk tabung dengan luas penampang yang meningkat. Gelombang suara berasal dari ujung yang kecil atau “tenggorokan”. Seiring suara merambat melalui tabung yang melebar secara bertahap, bentuk muka gelombang tetap konsisten, dan impedansi akustik menurun menyerupai udara terbuka. Proses ini meningkatkan efisiensi transmisi suara. Klakson mobil awalnya menggunakan prinsip ini dengan sumber suara mekanis sederhana. Ketika obrolan ditekan, udara ditekan melalui buluh di tenggorokan klakson, dan gelombang suara yang dihasilkan diperkuat saat keluar dari mulut klakson (Brophy, 2023).

Bel mobil pertama lainnya adalah “klaxon” dari bahasa Yunani klaxo yang berarti menjerit. Alih-alih menggunakan buluh sebagai sumber suara seperti pada contoh di atas, klakson menggunakan diafragma baja. Ketika roda gigi berputar melawan diafragma, roda gigi tersebut mendorong diafragma masuk dan keluar di tenggorokan klakson, menghasilkan suara “ahooga” yang khas, yang mungkin kita kaitkan dengan film kartun jadul “Oooga Booga”. Klakson pertama adalah murni mekanis, digerakkan oleh putaran tangan, tetapi versi selanjutnya digerakkan oleh mesin.

Sebagian besar klakson kendaraan modern masih menggunakan diafragma getar sebagai sumber suara, tetapi pergerakan secara elektromagnetik, sehingga bunyi klakson yang dihasilkan lebih halus daripada klakson kuno.

Kini, banyak klakson mobil modern telah berevolusi untuk menghasilkan tidak hanya satu nada, tetapi dua nada, dengan ujung minor sebagai interval yang paling umum. Alasannya adalah, klakson yang mengeluarkan dua nada secara bersamaan akan lebih menonjol daripada satu nada, yang dapat dengan mudah berbaur dengan gangguan sekitar di kota atau lingkungan yang bising.

Andai saja kita memperhatikan, klakson mobil jaman sekarang bahkan menghasilkan lebih dari dua nada sekaligus. Secara teoritis, sepertinya klakson yang menonjolkan bunyinya akan lebih disukai, namun faktanya, klakson satu nada pun sudah cukup membuat pusing dan menarik perhatian pendengar bila dibunyikan oleh beberapa kendaraan sekaligus.

Di satu sisi, kami ingin klakson tersebut cukup keras dan cukup mencolok untuk memperingatkan orang akan bahaya yang akan terjadi dan memberi mereka kesempatan untuk menghindar. Namun, semakin meluasnya masyarakat yang membunyikan klakson secara berlebihan – untuk mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, kegembiraan – mengakibatkan jalan raya menjadi lebih hiruk-pikuk dan membingungkan.

Ketidakjelasan seputar penggunaan klakson tidak hanya terbatas pada tingkat gangguan di jalan. Di berbagai negara, klakson mobil memiliki bahasa tersendiri yang mencerminkan budaya dan norma sosial yang berbeda. Dalam banyak kasus, klakson tidak hanya dianggap sebagai alat komunikasi terkait jalan raya, tetapi lebih sebagai sarana untuk menyampaikan berbagai pesan (Mahmood,2021).

Beberapa di antaranya bahkan dapat mencerminkan aspek budaya yang lebih luas, menjadi fokus utama dari tulisan ini serta menjadi motivasi di balik pelaksanaannya. Hipotesis yang muncul adalah bahwa “di banyak negara, membunyikan klakson menjadi bagian integral dari budaya komunikasi, menyampaikan lebih dari sekedar makna yang berhubungan dengan jalan. Oleh karena itu, klakson harus diakui sebagai sarana komunikasi non-verbal yang signifikan.”

Cox (2012) memberikan pandangan tentang budaya klakson di Boston, tempatnya tinggal. Di sana, membunyikan klakson adalah keterampilan yang kurang dihargai, dan klakson mobil dianggap tidak terlalu penting. Dikatakan penggunaan klakson adalah sebagai cara untuk menyuarakan kekesalan atau ketidakpuasan terhadap perilaku yang mengganggu di jalanan, dan bukan sebagai suatu keahlian yang perlu dihargai. Hal ini berarti, klakson bukanlah alat utama, tapi lebih sebagai cara untuk mengungkapkan ketidaknyamanan di tengah keramaian lalu lintas kota.

Lain halnya dengan Boston, Miller (2015) mencatat bahwa di Amerika Serikat, betapa jarangnya klakson digunakan, karena menurutnya, hal itu hanya terjadi dalam dua situasi. Pertama, ketika mobil berada dalam jarak sangat dekat sehingga hampir menabrak, dan kedua, sebagai tanda salam karena mengenal orang tertentu saat berpapasan di jalan. Pandangan serupa juga diungkapkan oleh Martin (2017) dan Runn (2011), mereka berpendapat bahwa orang Amerika menggunakan klakson untuk memberikan peringatan atas bahaya atau mengungkapkan ketidakpuasan terhadap perilaku buruk atau pelanggaran hukum di jalan.

Setelah tinggal selama lima tahun di Italia, Runn (2011) mengisahkan tentang bagaimana orang Italia mencintai mobil dan klakson mobilnya. Bagi mereka, membunyikan klakson digunakan sebagai alat komunikasi biasa. Menurutnya orang Italia sangat bersemangat; oleh karena itu, “komunikasi mereka juga penuh semangat”. Klakson digunakan untuk mengekspresikan perasaan mereka “pada saat itu” tanpa bermaksud negatif. Seringkali kedengaran seperti “lomba klakson” sehingga pendatang baru mungkin akan menganggap orang Italia sebagai orang yang kasar.

Lalu ada apa dengan pengemudi Barbados dan klakson mereka? ketika orang Bajan berada di belakang kemudi mobil atau motor, mereka tidak hanya menyetir, tetapi juga berbicara. Ya, berbicara melalui klakson. Dengan membunyikan klakson, orang Barbados sedang menyampaikan pesan abadi dan kehangatan. Lucunya lagi, orang yang hilang melalui deringan klakson harus membalas menanggapi dengan berteriak sambil kejadian tangan, sebaliknya, jika tidak membalas akan dianggap sebagai pelanggaran dan biasanya tidak akan diundang ke pesta Natal oleh sang pengemudi (Shattuck, 2009).(LoL)

Di Haiti, keramaian di jalan raya seperi tanpa hukum. Jika Anda adalah seorang pengemudi, Anda harus tahu bahwa setiap bunyi klakson memiliki arti yang berbeda. Mulai dari “minggir” atau “perhatikan jalanan” hingga hal-hal seperti “halo”, “terima kasih”, “berhenti bayangan di tengah jalan” dan “rem truk saya tidak berfungsi dengan baik”. Bayangkan saja kekacauan di jalan raya Haiti ( Herser 2017).

Pengemudi di Jamaika memiliki tiga bunyi klakson. Bila mendengar suara “bip bip bip” dengan nada sangat pendek dan tidak keras berarti “hati-hati” atau “saya akan menyalib dan mendahului”. Bunyi yang kedua adalah “tooot toot tooot” dengan nada panjang dan keras memberi pesan “sedang apa orang ini?” namun tidak marah dan konfrontatif. Tetapi jika terdengar bunyi “waaaaannnnnkkkkkk” tidak diragukan lagi, dalam bahasa apapun sang pengemudi seolah berteriak “mati saja kau, daripada hidup di jalanan”. (diedit).

Lalu apa yang terjadi di TTS? Setelah hidup 40 tahun di tanah ini, saat berjalan dan mendengar bunyi “piiip piip piiip”, yang saya kira hanya bunyi….klakson. Ternyata lebih dari itu, terkirim sederet pesan oleh sekian pengemudi dengan latar belakang yang berbeda. Di kota Soe, banyak sekali pengemudi yang ekspresif, kreatif dan rendah hati. Klakson-klakson mereka terdengar seperti irama musikal ,ada juga yang bunyinya seperti “teloleeeet teloleeeet” dengan suara yang membahana. Beberapa sopir angkot di dalam dan luar kota bahkan mengatakan bahwa “klakson adalah sebuah bahasa”. Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi tidak hanya dengan sesama pengemudi tetapi dengan pejalan kaki.

Untuk merangkai kata layaknya kode Morse, para pengemudi mencampur bunyi pendek dan panjang serta memadukan beberapa jenis musik tertentu dalam klakson mobilnya. Klakson campuran ini kemudian memiliki arti “hoiii, jalan pake mata”; “minggir dolo, beta mau lewat”; “Su lampu hijau, masih bikin apa lai?”; “makasih su kasih beta jalan”; “Kas ba bunyi ko dong jengkel”; “ada orang baru abis nikah ooiii”; “hai cantik”; “baru pulang pasar, belanjaan penuh”; “ade nona tunggu di cabang, kak su menuju”; “umpatan”; “penghinaan karena angkot yang didahului penumpangnya hanya dua orang”; “kemarahan”; “kecerobohan”

Setiap bunyi klakson di jalanan TTS membawa pesan tersendiri. Ada peringatan untuk berkendara lebih hati-hati, ajakan sopan untuk memberi jalan, dan ucapan terima kasih karena diberi jalan. Klakson berirama musikal dengan kalimat ajakan untuk melanjutkan perjalanan juga menjadi ciri khas. Di sisi lain, terdapat pesan positif seperti sapaan kepada seseorang yang terlihat menarik. Klakson juga digunakan sebagai sarana komunikasi informatif, memberi tahu bahwa kendaraan membawa banyak barang atau memberikan instruksi dan tempat pertemuan. Namun, tidak hanya berisi pesan positif, klakson juga digunakan untuk menyuarakan ketidaknyamanan terhadap suara yang mengganggu. Di balik keceriaan, klakson juga menjadi media untuk menyampaikan kemarahan, umpatan, dan kritik terhadap perilaku di jalan. Dengan demikian, klakson di TTS bukan sekedar bunyi, melainkan bahasa tersendiri yang memperkaya komunikasi di jalanan kota ini.

Dentuman klakson bak karya seni komunikasi yang mengagumkan, terutama ketika kita menyadari bahwa setiap pengemudi di balik klakson tersebut membawa latar belakang yang beragam. Mereka memiliki perbedaan dalam hal pendidikan, status sosial, jenis kelamin, usia, dan berbagai aspek lainnya. Di antara mereka mungkin ada seorang sarjana yang mencerminkan tingkat pendidikan tinggi, sementara yang lain mungkin adalah pekerja keras dengan latar belakang pendidikan yang lebih rendah. Tak jarang, klakson yang terdengar dapat mengungkapkan karakteristik dan kepribadian pengemudinya, menciptakan komunikasi yang menggambarkan keberagaman masyarakat TTS.

Seorang ibu rumah tangga mungkin menggunakan klakson untuk memberikan peringatan atau menyuarakan ketidaknyamanan dalam kesibukannya. Pekerja kantoran bisa saja menggabungkan bunyi klakson dengan irama musikal sebagai pepelampiasan kreativitas di tengah kemacetan kota. Pejabat mungkin menggunakan klakson sebagai bentuk otoritas atau sebagai cara untuk menyampaikan urgensi dalam kapal.

Pedagang dapat menjadikan klakson sebagai alat untuk mempromosikan bisnis mereka, dengan bunyi yang mencirikan produk atau jasa yang ditawarkan. Setiap golongan masyarakat, dari pekerja hingga pejabat, pedagang, dan banyak lagi, memiliki gaya komunikasi unik melalui klakson yang mencerminkan identitas dan peran mereka di masyarakat. Inilah yang membuat setiap klakson menjadi sebuah cerita tersendiri di tengah keramaian jalanan TTS.

Dalam perjalanan melalui suara klakson mobil, kita telah menyelami lebih dari sekadar gangguan jalan raya. Klakson, meski sering dianggap sepele, ternyata telah menjadi simbol ritme kehidupan modern yang mengusung cerita, pesan, dan nuansa budaya di setiap deringnya. Dibalik bunyi klakson, kita menemukan sebuah bahasa non-verbal yang sarat makna, mencerminkan dinamika kehidupan sehari-hari dari sudut pandang yang beragam. Dari keramaian jalanan TTS hingga klakson kebudayaan di berbagai belahan dunia, setiap klakson memiliki narasi uniknya sendiri. Klakson bukan sekadar bunyi, melainkan karya seni komunikasi yang melibatkan seluruh masyarakat, menciptakan simfoni yang memperkaya pengalaman di jalanan kota ini. Dengan demikian, suara klakson tidak hanya menjadi aspek teknis dalam berkendara, tetapi juga jendela menuju cerita hidup yang tak terduga dan penuh warna di setiap sudut jalan.****

Example 300250
Example 120x600