Ket foto ; PPK Proyek SPAM Naukae, Benny Missa
Laporan Reporter SUARA TTS.COM, Erik Sanu
SUARA TTS.COM | SOE – Polemik proyek pengelolaan dan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Desa Naukae, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat tanggapan dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek, Benny Missa.
Benny menegaskan bahwa fasilitas SPAM tersebut masih memiliki ketersediaan air. Menurutnya, persoalan yang terjadi bukan karena air tidak tersedia, melainkan berkaitan dengan pengelolaan dan pengoperasian jaringan di lapangan.
“Di reservoir 30 air full, sedangkan reservoir 60 air sementara isi sudah setengah. Selama air di reservoir ada berarti air jalan,” kata Benny kepada wartawan,Jumat 6/11/2026.
Ia menjelaskan, pengoperasian jaringan membutuhkan petugas yang secara rutin membuka aliran air kepada masyarakat.
Benny juga menyebut adanya petugas bernama Abanat yang selama ini membantu membuka aliran air kepada masyarakat. Namun, menurut Benny, petugas tersebut harus berjalan kaki dari kantor desa menuju kantor kecamatan dan tidak selalu berada di lokasi karena memiliki aktivitas lain.
“Selama ini dia jalan kaki. Kalau ada waktu dia pergi buka ke masyarakat. Kalau di kebun berarti dia tidak kasih jalan,” jelasnya.
Benny juga menyinggung informasi mengenai permintaan uang sirih pinang yang disebut berkaitan dengan pengoperasian aliran air. Pernyataan tersebut disampaikan Benny sebagai bagian dari informasi yang ia terima terkait kondisi pengelolaan di lapangan.
Di sisi lain, Benny mengatakan pihak Perumda Air Minum telah turun langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi jaringan sebelum proses serah terima pengelolaan dilakukan.
“Kemarin ada petugas Perumda dua orang ke lokasi untuk pastikan air jalan supaya bisa serah terima. Jadi kemarin sudah telusuri jaringan,” ujarnya.
Menurut Benny, setelah pengelolaan fasilitas SPAM tersebut diserahkan kepada Perumda Air Minum, pengoperasian jaringan diharapkan dapat berjalan lebih baik dan teratur.
“Masalahnya hanya pengelolaan. Kalau sudah serahkan ke Perumda berarti aman,” katanya.
Sebelumnya, proyek SPAM Naukae dengan nilai sekitar Rp3,2 miliar mendapat sorotan masyarakat karena dinilai belum memberikan manfaat sebagaimana yang diharapkan.
Proyek tersebut dibangun untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Desa Naukae dan Desa Tetaf. Proyek dikerjakan pada tahun 2024 oleh CV Radit Jaguar, dengan Provisional Hand Over (PHO) disebut dilakukan pada akhir 2024 dan Final Hand Over (FHO) pada 2025.
Salah seorang warga Desa Tetaf, Ande Lay, mengatakan air dari fasilitas SPAM tersebut hanya mengalir ketika dilakukan uji coba sekitar Februari atau Maret 2025.
“Sejak tahun 2025 air hanya jalan saat uji coba sekitar bulan Februari atau Maret 2025. Setelah itu air tidak pernah mengalir,” kata Ande kepada wartawan, Kamis (5/11/2026).
Ia mengaku kecewa karena pembangunan jaringan perpipaan yang menghabiskan anggaran sekitar Rp3,2 miliar tersebut belum dirasakan manfaatnya secara maksimal oleh masyarakat.
“Jujur, kami anggap ini program pipa masuk kampung, bukan air masuk kampung,” ujarnya.
Menurut Ande, masyarakat tidak mempermasalahkan pembangunan infrastrukturnya. Namun, warga mempertanyakan keberlanjutan pengelolaan fasilitas tersebut karena tujuan utama pembangunan SPAM adalah menyediakan air bersih bagi masyarakat.
Ia juga mempertanyakan proses penyerahan aset yang disebut masih menjadi salah satu kendala dalam pengelolaan SPAM.
“Masak hanya alasan serah terima sampai sudah mau berulang. Yang kedua, 15 November ini sudah berulang tahun,” katanya.
Karena kecewa, Ande bahkan menyebut masyarakat Desa Tetaf berencana membongkar jaringan pipa dan meteran yang telah terpasang apabila tidak ada kepastian mengenai keberlanjutan pengelolaan SPAM tersebut.
“Kami masyarakat Tetaf berencana bongkar pipa dan meteran untuk antar kembali ke dinas. Daripada dipasang untuk hiasan halaman rumah,” tegasnya.
Ande menyebut jumlah meteran yang telah terpasang mencapai sekitar 250 unit, dengan rincian sekitar 150 unit untuk wilayah Tetaf dan 100 unit untuk Naukae.
Dengan adanya klarifikasi dari PPK proyek, persoalan SPAM Naukae kini mengerucut pada aspek pengelolaan dan pengoperasian jaringan. Sementara kondisi reservoir dan jaringan juga sedang ditelusuri oleh petugas Perumda Air Minum sebagai bagian dari persiapan proses serah terima.
Masyarakat berharap proses tersebut segera memberikan kepastian sehingga fasilitas SPAM yang telah dibangun dengan anggaran miliaran rupiah dapat benar-benar berfungsi dan memberikan manfaat bagi warga Naukae dan Tetaf.(Sys/ST)

















