Ket foto : Nampak Reservoir di SPAMNaukae dan meteran warga
Laporan Reporter SUARA TTS.COM, Erik Sanu
SUARA TTS.COM | SOE – Proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Desa Naukae, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), senilai sekitar Rp3,2 miliar, terus menjadi sorotan.
Pasalnya, hingga kini pengelolaan fasilitas air bersih tersebut belum memiliki kejelasan. Akibatnya, masyarakat Desa Naukae dan Desa Tetaf yang menjadi sasaran pelayanan masih kesulitan mendapatkan air bersih secara rutin.
Ironisnya, di tengah belum jelasnya pengelolaan, sejumlah fasilitas SPAM justru mulai mengalami kerusakan. Hasil penelusuran media ini menemukan adanya pipa yang pecah serta stop kran yang sudah rusak.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa proyek yang dibangun menggunakan anggaran miliaran rupiah tersebut berpotensi tidak memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat apabila persoalan pengelolaan dan pemeliharaan terus dibiarkan berlarut-larut.
Sejumlah warga Desa Tetaf yang ditemui Sabtu (7/11/2026) mengungkapkan, air dari SPAM Naukae hanya sempat mengalir ketika dilakukan uji coba. Setelah itu, distribusi air tidak berjalan secara normal.
“Air mengalir saat uji coba, setelah itu tidak lagi ” ujar warga Tetaf, David Kikhau.
Keluhan serupa disampaikan warga Desa Naukae. Mereka bahkan mengaku sempat kembali mendapatkan aliran air pada Kamis (5/11/2026), setelah sebelumnya muncul pemberitaan media mengenai persoalan SPAM tersebut.
Namun, aliran air itu hanya berlangsung sebentar.
“Waktu Kamis itu tiba-tiba air sempat mengalir, tapi tidak lama juga. Mungkin karena ada pemberitaan media sehingga ada yang perintahkan untuk kasih jalan. Sebelumnya sudah hampir dua tahun air tidak pernah mengalir. Kami ingat saat uji coba sekitar tahun 2025, air mengalir mungkin dua kali. Setelah itu tidak mengalir lagi sampai sekarang,” ungkap seorang warga Tetaf lainnya
Persoalan SPAM Naukae ternyata bukan hanya menyangkut distribusi air, tetapi juga ketidakjelasan pengelolaan dan penyerahan fasilitas.
Informasi yang dihimpun media ini menyebutkan, proses penyerahan fasilitas dari instansi teknis Pemerintah Kabupaten TTS hingga kepada pihak yang akan mengelola SPAM tersebut belum tuntas.
Sebelumnya, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek SPAM Naukae, Benny Missa, menjelaskan bahwa pengelolaan fasilitas tersebut belum berjalan karena proses penyerahan kepada pihak pengelola belum dilakukan.
Dalam kondisi tersebut, Yonatan Abanat selama ini dipercaya membantu membuka dan mengatur distribusi air kepada masyarakat.
Namun, Yonatan mengaku dirinya hanya membantu secara sosial dan bukan sebagai pengelola resmi fasilitas SPAM.
Ia menjelaskan, terdapat beberapa reservoir yang melayani wilayah berbeda.
Reservoir yang berada di sekitar rumahnya melayani masyarakat menuju wilayah Manikin. Untuk jalur tersebut, menurutnya, aliran air masih berjalan cukup lancar.
“Kalau reservoir yang di rumah saya, melayani masyarakat arah Manikin dan airnya mengalir lancar,” jelas Yonatan.
Sementara itu, reservoir yang berada di sekitar Kantor Camat Kuatnana melayani masyarakat Desa Tetaf dan sebagian wilayah Naukae.
Menurut Yonatan, pengoperasian reservoir tersebut membutuhkan kehadirannya secara langsung untuk membuka aliran air.
“Yang menjadi kendala itu reservoir dekat kantor camat karena saya harus bolak-balik untuk membuka air,” katanya.
Ia mengaku kewalahan karena harus mengeluarkan biaya pribadi setiap kali mendatangi lokasi.
“Saya merasa kewalahan karena setiap kali jalan harus bayar ojek pulang-pergi. Saya merasa ini kerja sosial, jadi biarkan saja,” ungkapnya.
Yonatan mengatakan, sejak fasilitas tersebut diresmikan, dirinya diminta oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) untuk membantu distribusi air hingga ada keputusan mengenai pengelolaan SPAM Naukae.
Namun, setelah waktu berjalan cukup lama, belum ada kepastian mengenai siapa yang secara resmi bertanggung jawab mengoperasikan dan memelihara fasilitas tersebut.
“Saya sudah sampaikan kepada kepala desa maupun dinas terkait, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan,” katanya.
Ia juga tidak ingin terus menjadi sasaran keluhan masyarakat ketika air tidak mengalir.
“Saya merasa hanya dimanfaatkan. Saya juga tidak mau menjadi sasaran amukan warga,” ujarnya.
Persoalan pengelolaan semakin memprihatinkan setelah media ini melakukan pengecekan langsung terhadap fasilitas SPAM di lapangan.
Dalam penelusuran pada Sabtu (7/11/2026), ditemukan bagian pipa yang mengalami kerusakan atau pecah serta sejumlah stop kran yang sudah tidak dalam kondisi baik.
Kerusakan tersebut patut menjadi perhatian karena jaringan perpipaan dan stop kran merupakan bagian penting dalam sistem distribusi air bersih.
Jika tidak segera diperiksa dan diperbaiki, kerusakan tersebut dikhawatirkan semakin mengganggu proses penyaluran air kepada masyarakat.
Sementara itu, saat dilakukan pengecekan pada reservoir yang berada di sekitar Kantor Camat Kuatnana, tidak terlihat adanya aktivitas pengoperasian.
Pintu reservoir tampak terkunci rapat. Di sekitar bangunan juga terlihat dedaunan kering.
Padahal, reservoir tersebut disebut melayani masyarakat Desa Tetaf dan sebagian wilayah Naukae.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang bertanggung jawab terhadap pengoperasian, pengawasan, dan pemeliharaan fasilitas tersebut selama proses penyerahan belum memiliki kejelasan.
Selain persoalan administrasi, kondisi fisik fasilitas juga perlu mendapat pemeriksaan teknis untuk memastikan penyebab kerusakan, termasuk apakah berkaitan dengan kualitas material, pemasangan, penggunaan, atau kurangnya pemeliharaan.
Proyek SPAM Naukae dibangun untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih. Karena itu, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya diukur dari selesainya bangunan reservoir dan pemasangan jaringan perpipaan.
Hal paling utama adalah memastikan air benar-benar mengalir dan dapat dinikmati masyarakat secara berkelanjutan.
Dengan anggaran sekitar Rp3,2 miliar, masyarakat tentu berharap fasilitas tersebut memberikan manfaat nyata bagi Desa Naukae dan Desa Tetaf.
Namun, ketika pengelolaan belum jelas, distribusi air tidak berjalan rutin, sementara sejumlah fasilitas mulai mengalami kerusakan, maka pemerintah daerah perlu segera mengambil langkah konkret.
Semakin lama fasilitas tidak dioperasikan dan dipelihara dengan baik, semakin besar pula risiko kerusakan bertambah dan biaya perbaikan yang harus ditanggung.
Jika persoalan ini terus berlarut-larut tanpa penyelesaian, proyek yang seharusnya menjadi solusi kebutuhan air bersih masyarakat justru berisiko menjadi investasi yang tidak memberikan manfaat sebagaimana mestinya atau bahkan berakhir mubazir.
Pemerintah Kabupaten TTS melalui instansi teknis terkait perlu segera memberikan penjelasan mengenai status penyerahan fasilitas SPAM Naukae, termasuk siapa yang bertanggung jawab mengelola dan memastikan distribusi air kepada masyarakat.
Informasi mengenai adanya surat yang disebut-sebut berkaitan dengan proses penyerahan fasilitas tersebut juga perlu diperjelas agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.(Sys/ST)

















