Ket foto ; Direktur Perumda Soe, Frans Steven Tafui
Laporan Reporter SUARA TTS.COM, Erik Sanu
SUARA TTS.COM | SOE, TTS – Kondisi jaringan perpipaan yang telah berusia sekitar 30 tahun menjadi salah satu tantangan serius bagi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam menjaga kelancaran distribusi air bersih kepada masyarakat.
Selain faktor usia infrastruktur, keterbatasan data dan pemetaan jaringan perpipaan turut menyulitkan petugas dalam menelusuri lokasi kebocoran, mengidentifikasi sambungan, hingga memastikan jalur distribusi air menuju pelanggan.
Direktur Perumda Air Minum Soe, Frans Steven Tafui, mengungkapkan persoalan tersebut saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Senin (2/11/2026).
Menurut Frans, sebagian jaringan pipa yang saat ini digunakan telah berusia puluhan tahun. Bahkan, terdapat pipa yang tertanam hingga kedalaman sekitar dua meter sehingga menyulitkan petugas ketika harus melakukan pemeriksaan dan perbaikan.
“Kalau pipa bocor di bagian atas, saat digali mungkin lebih cepat ditemukan. Tetapi kalau kebocorannya berada di bagian bawah atau tertanam cukup dalam, itu yang sulit. Petugas harus menelusuri terlebih dahulu untuk memastikan titik kebocorannya,” jelas Frans.
Kondisi tersebut membuat penanganan kerusakan jaringan tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat. Petugas harus memastikan lokasi kebocoran sebelum melakukan penggalian dan perbaikan agar tindakan yang dilakukan tepat sasaran.
Pemetaan Jaringan Masih Menjadi Tantangan
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah penelusuran jalur perpipaan dan sambungan jaringan yang telah dibangun sejak puluhan tahun lalu.
Frans mengakui, pihaknya masih menghadapi kesulitan untuk mengetahui secara pasti arah sejumlah jaringan pipa, termasuk kondisi sambungan yang selama ini melayani pelanggan.
Keterbatasan peta jaringan dan data sambungan tersebut dapat menyulitkan petugas dalam menentukan jalur aliran air, menemukan titik kebocoran, serta mengidentifikasi penyebab gangguan tekanan di wilayah pelayanan.
Tanpa data jaringan yang akurat, penanganan gangguan berpotensi membutuhkan waktu lebih lama karena petugas harus melakukan pemeriksaan dan penelusuran langsung di lapangan.
“Memang salah satu kendala yang kami hadapi adalah mengetahui secara pasti jalur-jalur pipa yang sudah dibangun sejak lama. Karena itu, kami perlu melakukan pendataan dan pemetaan kembali supaya ketika terjadi gangguan, petugas lebih mudah mengetahui jalur mana yang bermasalah,” jelas Frans.
Karena itu, pendataan Sambungan Rumah (SR), penelusuran jalur distribusi, serta penyusunan peta jaringan menjadi bagian penting dalam pembenahan pelayanan air bersih di Kota Soe.
Frans menjelaskan, kebocoran pipa yang tertanam di dalam tanah tidak selalu mudah diketahui, terutama apabila air yang keluar tidak terlihat secara langsung di permukaan.
Dalam kondisi tertentu, kebocoran dapat memengaruhi tekanan air dan mengganggu kelancaran distribusi kepada pelanggan yang terhubung dengan jaringan tersebut.
Untuk membantu mempercepat penanganan, Frans mengharapkan partisipasi masyarakat agar segera melaporkan apabila menemukan kebocoran pipa atau mengalami gangguan pelayanan air bersih.
“Kami juga berharap masyarakat bisa membantu memberikan informasi apabila menemukan kebocoran atau mengalami gangguan air. Informasi dari masyarakat sangat penting bagi kami untuk mengetahui lokasi persoalan sehingga petugas bisa segera melakukan pengecekan,” ungkapnya.
Menurutnya, informasi mengenai lokasi kebocoran, sambungan rumah, maupun wilayah yang mengalami gangguan akan membantu petugas melakukan pemeriksaan secara lebih terarah.
Tekanan Air dan Durasi Pelayanan Terdampak
Persoalan jaringan perpipaan juga berpengaruh terhadap tekanan dan durasi pelayanan air kepada pelanggan.
Frans menjelaskan, ketika debit air mengalami penurunan, tekanan pada jaringan distribusi turut terdampak. Akibatnya, durasi pelayanan yang dalam kondisi normal dapat mencapai sekitar enam jam berpotensi berkurang menjadi empat jam, bahkan tiga jam.
“Kalau debit air berkurang, tentu tekanan ikut berpengaruh. Pelayanan yang biasanya bisa mencapai enam jam, dalam kondisi tertentu bisa turun menjadi empat jam bahkan tiga jam. Karena itu, kami melakukan penyesuaian teknis di lapangan agar distribusi tetap berjalan,” kata Frans.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Perumda Soe melakukan sejumlah rekayasa teknis di lapangan, termasuk penyesuaian jaringan agar aliran air dapat menjangkau wilayah yang membutuhkan pelayanan.
Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan data jaringan yang memadai sehingga pengaturan distribusi dapat dilakukan secara lebih terukur dan tepat sasaran.
Pemetaan yang jelas diperlukan untuk mengetahui sumber air yang memasok suatu wilayah, jalur pipa transmisi, hingga jaringan distribusi yang mengalirkan air ke sambungan rumah pelanggan.
Perumda Siapkan Pembagian Sembilan Zona
Sebagai bagian dari pembenahan sistem pelayanan, Perumda Soe merencanakan penataan jaringan distribusi dengan membagi wilayah pelayanan ke dalam sembilan zona.
Melalui sistem tersebut, perusahaan diharapkan dapat mengidentifikasi wilayah pelayanan berdasarkan sumber air dan jaringan yang memasok masing-masing kawasan.
Frans menyebutkan sejumlah sumber atau titik jaringan yang menjadi perhatian dalam penataan tersebut, antara lain Bonleu, Nifuhuki, Oenasi, SMK 1, Oefatuotoni, dan Meokono.
Pembagian zona diharapkan mempermudah pemantauan tekanan air, pengaturan distribusi, serta identifikasi wilayah yang mengalami gangguan.
“Kami berencana membagi wilayah pelayanan menjadi sembilan zona. Dengan pembagian ini, kami berharap pengaturan distribusi lebih mudah dilakukan, tekanan air bisa dipantau, dan apabila terjadi gangguan, kami lebih cepat mengetahui wilayah serta jaringan yang harus diperiksa,” jelasnya.
Dengan sistem zonasi dan pemetaan yang lebih terstruktur, petugas nantinya dapat lebih mudah mengetahui jalur distribusi yang bermasalah tanpa harus menelusuri jaringan secara luas setiap kali terjadi gangguan.
Meski demikian, keberhasilan sistem tersebut sangat bergantung pada kelengkapan pendataan jaringan, pemutakhiran peta perpipaan, serta kemampuan perusahaan mendeteksi dan memperbaiki kebocoran secara tepat.
Rencana Pembangunan Reservoir
Selain pembenahan jaringan distribusi, Frans juga mengungkapkan adanya rencana pembangunan reservoir atau tempat penampungan air berkapasitas besar sebagai bagian dari upaya meningkatkan pelayanan air bersih kepada masyarakat.
Pembangunan reservoir diharapkan dapat mendukung ketersediaan dan pengaturan distribusi air. Namun, penambahan kapasitas penampungan perlu berjalan beriringan dengan pembenahan jaringan perpipaan agar air yang tersedia dapat disalurkan secara efektif kepada pelanggan.
“Pembangunan reservoir berkapasitas besar ini menjadi salah satu rencana kami untuk mendukung peningkatan pelayanan air bersih. Tetapi tentu harus dibarengi dengan pembenahan jaringan distribusi supaya air yang tersedia benar-benar bisa menjangkau pelanggan,” ungkap Frans.
Kondisi jaringan yang telah berusia sekitar 30 tahun menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Perumda Soe. Pembenahan tidak cukup hanya dilakukan melalui perbaikan kebocoran, tetapi juga harus mencakup pendataan jalur pipa, identifikasi sambungan rumah, pemetaan sumber air, hingga evaluasi terhadap jaringan yang membutuhkan penggantian.(Sys/ST)

















